Home , , , , , , , , , , , , , � TENTANG SUBSIDI BBM LAGI....!!!!!, TURKI LAGI, SYRIA LAGI, INDONESIA (SUNNI) & IRAN (SYI"AH) LAGI....dan BARAT LAGI..!!!!????!!!!!!

TENTANG SUBSIDI BBM LAGI....!!!!!, TURKI LAGI, SYRIA LAGI, INDONESIA (SUNNI) & IRAN (SYI"AH) LAGI....dan BARAT LAGI..!!!!????!!!!!!

Berikut ini copas dari status teman FB saya, mahasiwa pintar yang studi di Amerika. Menarik sekali infonya. (Saya edit bahasanya sedikit)
Tahun 2003, kondisi migas di AS = defisit
Tahun 2013, kondisi migas di AS = surplus
Tahun 2003, kondisi migas di Indonesia = surplus
Tahun 2013, kondisi migas di Indonesia = defisit
Mengapa AS bisa dari yang tadinya defisit menjadi surplus dan Indonesia sebaliknya? Pertama karena kebijakan Obama yang mengijinkan explorasi offshore/onshore di DN dan teknologi frakturing. Sekarang ini AS gak perlu lagi import minyak dunia dari dunia arab karena supply DN sudah surplus dan sebaliknya AS menjadi negara pengexport terbesar #3 melebihi negara2 OPEC.
Lalu pertanyaanya, kenapa harga minyak dunia masih sekitaran $100 ? Penyebab sebenarnya bukan karena lifting cost tetapi ongkos untuk mensubsidi rakyat Arab Saudi sebagai pengexport minyak terbesar dunia. Dengan kondisi skrg, pemerintah Arab Saudi diharauskan menSUBSIDI terus menerus rakyatnya biar tidak berontak dan terjadi arab spring di Saudi. Caranya dengan menjaga agar minyak dunia tidak jatuh di level dibawah $100. Itu makanya saudi gak akan memperbanyak supply migas tapi menahannya di level sekarang.
Efeknya yang buruk tentu buat negara linglung kayak indonesia, yang sekarang karena penerimaan migasnya sudah defisit, semua perusahaan minyaknya juga gagal (BP Migas/Pertamina/Petral) mengexplorasi oil field baru; belum lagi mismanajemen kegagalanya sehingga export menurun.
Nah ketika kegagalan-kegagalan ini terakumulasi, semuanya dibebankan kepada masyrakat [cabut subsidi] Padahal kalau kita lihat dari contoh di AS dan Saudi.. [kedua negara itu kebijakannya tidak seperti Indonesia]. Kegagalan di Indonesia adalah kegagalan manajemen pemerintah, seperti saya bandingkan diatas. Kita ini hidup jadi kere karena mensubsidi negara2 kaya, sementara kita terlalu bloon diperintah terlalu lama oleh rejim yang kegagalanya juga melewati batas.
Di AS aja, tiap ada kebijakan yang mengancam subsidi rakyat, pasti akan dihantam balik. Seperti tahun kemaren, dimana ‘pasar’ dan orang-orang rating dan IMF memaksa pemerintah AS untuk memotong subsidi karena hutang yang terlalu tinggi, tetapi partai-partai di AS memilih bersatu untuk ‘melawan pasar’, karena menurut partai-partai itu: TUJUAN negeri ini didirikan adalah untuk melindungi rakyatnya, persetan dengan ‘pasar’. ‘Pasar’ itu memang isinya cuman setan.
–akhir kutipan–
Lalu, seorang teman yang mukim di AS bercerita tentang bagaimana subsidi pendidikan di sana.
Subsidi di sini itu ada dua sumbernya, dari federal dan state. Kalau federal salah satu contohnya program Head Start, yaitu program pendidikan awal untuk anak balita bagi keluarga yg pendapatannya di bawah rata2. Dulu dua anak kami masuk program ini waktu preschool. Meski bentuknya subsidi, tapi ortu diberitahu tiap kali ada perkembangan baru mengenai kebijakan dr federal. Misalnya waktu subsidi dikurangi perihal kesulitan ekonomi AS. Ortu dikasih tahu kalau pembatasan pendapatan maksimal yg disyaratkan dirubah dan bakalan cuma sedikit anak yg bisa ikutan program. Tapi bagi anak yg tidak bisa diterima kayak anak bungsu kami yg tidak berkesempatan ikut program Head start, langsung diberi rujukan untuk mendaftar ke preschool lain yg disubsidi pemda state atau kota. Jadi nggak ada yg namanya saat subsidi dikurangi, lalu warga disuruh bingung sendiri. Begitu pula kalau misalnya ada penambahan subsidi, kejelasannya bahkan diumumkan dalam surat resmi dan dibeberkan program2 apa saja yg akan ikut kena positifnya. Ini yg menjadikan subsidi dari pihak manapun bukan hal yg bisa dikorupsi dengan mudah. Karena semuanya transparan utk warga.
Keheranan saya: lho, jadi neoliberalisme yang dianut para pengambil kebijakan ekonomi Indonesia sebenarnya berkiblat ke mana sih? Para ekonom terkenal itu (dan anak buahnya) kan kebanyakan lulusan Amrik, kok ternyata di dalam negerinya AS nggak neolib-neolib amat..?
Pencabutan subsidi yang semena-mena jelas sebuah kezaliman. Kalau kita mau belajar dari Iran (sama-sama negara berkembang; dan posisinya pun sangat sulit karena embargo; supaya tidak ada alasan untuk berkata ‘ya iyalah..AS kan kaya, makanya bisa begitu’), kita bisa lihat bahwa proses pencabutan subsidi dilakukan secara terprogram sejak 1993 (era Rafsanjani). Program ini terus berjalan meski presiden berganti-ganti. Sejak 1999 (era Khatami), dimulailah proyek jangka panjang pembangunan stasiun pengisian CNG; dimulai dengan membangun pipa-pipa gas hingga ke pelosok desa-desa. Tahun 2004, seorang periset senior lembaga riset milik pemerintah berhasil menciptakan tabung CNG untuk mobil dan hasil risetnya itu diproduksi massal oleh pemerintah tahun itu juga. Stasiun pengisian CNG pun dibangun di seantero negeri. Tahun 2004 itu pula, Iran-Khodro (industri mobil terbesar Iran) mulai membuat kit-converter untuk mobil yang mau beralih dari BBM ke CNG. Iran-Khodro juga memulai produksi mobil berbahan bakar CNG yang selesai tahun 2005 (era Ahmadinejad).
Jadi, subsidi dicabut ketika segala sesuatunya siap (misal, bahan bakar gas sudah gampang diakses, dll).(http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/18/tentang-subsidi-bbm-lagi/#more-1421)
LIHUM SIANG....: Kalau akhirnya FINAL harga BBM jadi NAIK , maka program pemerintah memberantas kemiskinan sudah pasti BERHASIL, karena orang Miskin yg dulunya masih bisa makan 3 kali satu hari menjadi 2 kali saja, yang 2 kali menjadi 1 kali, sedang yang 1 kali menjadi 0 alias tidak makan lagi...akhirnya mati...sehingga pemberantasan kemiskinan pun menjadi SUKSES.....iyakah jar........ by team www.banjarkuumaibungasnya.blogspot.com / MFF/KNY/AR/R/20Juni2013/14:11wita

DAN IRAN PUN CABUT SUBSIDI BBM-TRANSPORTASI
Pemerintah mulai mewacanakan lagi pengurangan subsidi BBM.  Seperti biasa, tulisan seorang pengamat ekonomi soal ‘kebohongan subsidi BBM’ kembali disebarluaskan di media sosial (FB, blog, dll).  Argumen soal ‘kebohongan subsidi’ memang membuat nyaman masyarakat yang memang umumnya anti pencabutan subsidi. Namun, menurut sebagian orang, hitung-hitungan yang dilakukan sang pengamat ekonomi ini sangat banyak menyederhanakan, terlalu banyak berasumsi, dan banyak variabel yang  tidak dilibatkan, terutama yang dari segi keteknikan. Saya tidak akan membahas detil soal hitungan ini karena bukan bidang saya. Yang jelas, di internet kita bisa menemukan cukup banyak tulisan yang dengan detil menjelaskan dimana letak kesalahan kalkulasi sang pengamat ekonomi.
Ada argumen yang banyak diulang-ulang oleh pihak-pihak yang antipencabutan subsidi, yang saya tahu pasti kesalahannya, yaitu argumen yang melibatkan Iran. Iran disebut-sebut sebagai negara yang menjual minyak dengan harga sangat rendah kepada rakyatnya, yaitu Rp 1287/liter. Ini tidak benar. Harga bensin di Iran saat ini minimalnya 4000 IRR/liter dan ada pembatasan pembelian; akan saya jelaskan nanti. (IRR= Iranian Riyal; per 21 April 2013, 4000 IRR= Rp3160)[1]
Yang mungkin akan mengejutkan banyak orang, Iran pun MENCABUT subsidi BBM-nya. Pernah di suatu masa, harga bensin di Iran memang sangat murah, sekitar Rp1500/liter. Tapi, itu bukan harga asli, melainkan disubsidi 80%.
Sejak akhir tahun 2006, pembelian bensin bersubsidi dibatasi (setiap mobil cuma boleh beli bensin 120 liter/bulan/mobil), dan akhirnya mulai akhir 2010 subsidi pun dikurangi. Menariknya, semua itu terjadi tanpa gejolak (tentu saja, kalau protes-protes minor, selalu ada dalam masyarakat Iran yang memang karakternya outspoken –blak-blakan-itu). Yang lebih menarik, Wamen ESDM kita dulu, Dr. Widjajono Partowidagdo (alm) pernah berkunjung ke Iran untuk mempelajari apa yang dilakukan Iran dalam efisiensi energi. Tapi, sayang sebelum beliau bisa mengaplikasikan apapun , beliau meninggal dunia (yang menurut pengamatan sebagian orang, agak ‘misterius’).
Ada satu fakta penting yang perlu dicermati:  Iran memberikan subsidi BBM. Ini jelas kontradiktif dengan pernyataan seorang pengamat ekonomi terkenal: ‘tidak ada yang disebut subsidi BBM itu’. Padahal, Iran adalah negara dengan cadangan minyak nomor 3 di dunia dan dengan cadangan gas nomor 2 di dunia. Iran jauh lebih kaya minyak daripada Indonesia, tapi mereka tetap memberikan subsidi.
Artinya apa? Pemakaian BBM di Iran sangat tinggi karena (dulu) harganya murah, bahkan 18 kali lipat tingkat konsumsi orang Jepang dan 9 kali lipat orang AS. Kasus penyelundupan BBM ke luar negeri pun banyak terjadi. Iran pun terpaksa mengirim minyak mentahnya ke negara-negara lain untuk di-refinery, karena hasil refinery di dalam negeri tidak cukup, saking borosnya. Ketika harus di-refinery di luar negeri, jelas memakan biaya besar. Dan ketika dijual di dalam negeri, pemerintah harus memberikan subsidi agar harga tetap murah. Artinya, pemerintah terbebani oleh subsidi ini.
Saya sempat berada di Iran ketika harga bensin di sana sangat murah. Saat itu, saya menyaksikan sendiri, betapa borosnya rakyat Iran. Mereka mengisi tangki mobil sendiri (karena tidak disediakan pelayan di pom bensin) dengan ceroboh, sehingga bensin itu berceceran. Mereka cuek karena harga yang sangat murah.
Apa yang dilakukan Iran untuk mengatasi masalah ini? Pemerintah di sana dengan tepat melihat bahwa Iran memiliki cadangan gas yang sangat besar. Bila rakyat menggunakan bahan bakar gas (dari jenis CNG), Iran akan menghemat sangat banyak uang (yang digunakan untuk subsidi) dan bahkan menghasilkan banyak uang (karena surplus BBM bisa dijual). Inilah yang secara sistematis dilakukan Iran dan dilakukan secara kontinyu, meski presidennya berganti-ganti. Proses sosialisasi pencabutan subsidi itu dilakukan sejak tahun 1993, era Presiden Rafsanjani. Sosialisasi itu bahkan dilakukan lewat film. Di komedi lawak Powarchin, yang membuat kota Teheran lengang (saking semua orang duduk di rumah menonton film serial tersebut), sering diselipkan propaganda (dengan cara yang mengundang tawa) betapa subsidi minyak itu membebani pemerintah. Bayangkan bila uang untuk subsidi itu dialihkan membuat rumah sakit, sekolah, bla…bla..(demikian’iklan’ di film lucu tersebut).
Di saat yang sama, sejak 1999 (era Khatami), dimulailah proyek jangka panjang pembangunan stasiun pengisian CNG; dimulai dengan membangun pipa-pipa gas hingga ke pelosok desa-desa. Tahun 2004, seorang periset senior lembaga riset milik pemerintah berhasil menciptakan tabung CNG untuk mobil dan hasil risetnya itu diproduksi massal oleh pemerintah tahun itu juga. Stasiun pengisian CNG pun dibangun di seantero negeri. Tahun 2004 itu pula, Iran-Khodro (industri mobil terbesar Iran) mulai membuat kit-converter untuk mobil yang mau beralih dari BBM ke CNG. Iran-Khodro juga memulai produksi mobil berbahan bakar CNG yang selesai tahun 2005 (era Ahmadinejad).
Masih tahun 2004 itu pula, kepolisian Iran mulai menertibkan lagi sistem pendataan kepemilikan mobil untuk menunjang program e-smart-card untuk kartu bensin subsidi.
Tahun 2005, Pemerintahan Ahmadinejad memberikan subsidi kepada rakyat yang ingin mengganti sistem mobilnya agar berbahan bakar CNG. Subsidi itu berupa kit-converter, juga subsidi untuk pengadaan tabung CNG-nya, bahkan subsidi untuk orang-orang yang mau membuka usaha pompa CNG. Seseorang hanya perlu punya tanah kosong minimal 1000 m2 dan uang modal 500 juta IRR. Selanjutnya, semua alat, keperluan, dan berbagai biaya tambahan untuk membangun pompa CNG itu disuplai pemerintah.
Selanjutnya, sejak 2010, mulailah pembatasan subsidi dilakukan dengan menggunakan semacam kartu subsidi (e-smart card). Setiap mobil cuma berhak membeli 60 liter/bulan bensin yang disubsidi 50%. Harga bensin super 5.000 IRR dan bensin biasa 4.000 IRR perliter.  Kartu subsidi ini ada PIN-nya dan harus cocok antara nomor mobil, nama pemilik mobil, dan warna mobil. Satu mobil tidak bisa memakai jatah mobil lain saat membeli bensin. Jika pemakaian bensin sebuah mobil lebih dari 60 liter/bulan, pemilik mobil tersebut harus membeli bensin dengan harga pasar Iran (yang sebenarnya masih juga disubsidi 20 %), yaitu 8.000 IRR/liter (bensin super) dan 7.000 IRR/ liter (bensin biasa).
Sementara itu, harga 1 tabung CNG adalah 60.000 IRR yang bisa dipakai untuk jarak sekitar 750 km.Ketika di pasar terjadi perbedaan harga: harga BBM lebih mahal daripada CNG, jelas, rakyat akan memilih dengan sukarela: mengganti sistem mobilnya dengan sistem CNG (apalagi ditunjang dengan berbagai kemudahan yang diberikan pemerintah).
Jadi, inilah yang umumnya kita abaikan di tengah hiruk-pikuk perdebatan tentang pencabutan subsidi BBM. Publik lebih fokus kepada dampak negatif pencabutan subsidi BBM. Padahal, ada masalah lain yang lebih penting diangkat yaitu upaya mencapai kemandirian energi.
Minimalnya ada tiga  fakta yang sepertinya agak diabaikan para pengamat yang berkali-kali muncul di televisi (atau menulis di koran).
Pertama,Indonesia bukan lagi negeri yang kaya minyak. Indonesia saat ini berada di peringkat 22 dalam daftar pemilik cadangan minyak terbanyak dunia. Sejak era Orde Baru, kebijakan energi Indonesia sangat bertumpu kepada minyak, tanpa  melakukan upaya pengembangan sumber-sumber energi terbarukan. Semakin lama, cadangan minyak Indonesia semakin menurun sementara minyak tetap menjadi sumber utama energi di Indonesia.
Kedua,minyak Indonesia pun tidak sepenuhnya diproduksi bangsa ini. Pertamina hanya memproduksi 13,8% dari total produksi minyak Indonesia, sementara sisanya  diproduksi oleh perusahaan asing, antara lain Chevron (41%), Total E&P Indonesie (10%), Chonoco Philips (3,6%), dan CNOOC (4,6%). Perusahaan-perusahaan asing itu tentu saja menjual minyaknya dengan harga pasar internasional karena berdasarkan aturan UU Migas, pemerintah tidak berhak lagi ikut campur dalam kebijakan perusahaan-perusahaan asing tersebut. Sementara, demi memenuhi konsumsi dalam negeri, Indonesia setiap harinya harus mengimpor 600.000 barel minyak dengan harga internasional dan dijual dengan harga Indonesia. Inilah sebabnya pemerintah mensubsidi BBM.
Ketiga,terjadi ketidakefisienan dalam pengelolaan energi kita. Antara lain, mengapa kita hanya mengelola 13% minyak Indonesia dan sisanya diserahkan kepada perusahaan asing dengan bagi hasil yang tidak adil? Selain itu, mengapa kita harus memilih untuk mengimpor minyak, sementara kita mempunyai sumber energi yang jauh lebih murah bila dimanfaatkan, yaitu batu bara dan gas? Anehnya, batu bara dan gas justru dijual murah kepada negara asing.
Jawaban dari pertanyaan ini sudah banyak yang tahu: kalau ada energi alternatif, pastilah itu mafia-mafia minyak Indonesia maupun asing akan rugi besar! Itulah sebabnya mereka menekan pemerintah supaya tidak mengembangkan energi alternatif. Yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi beban anggaran hanya mencabut subsidi, tanpa ada upaya penyiapan infrastruktur untuk penggunaan energi alternatif. Di sinilah letak kesalahan besarnya. Jangan malah dikaburkan pada isu ‘kebohongan subsidi’.
Inti dari tulisan ini hanya satu: marilah kita lebih jernih dalam menyikapi berbagai isu. Tidak semua pencabutan subsidi itu antirakyat. Pencabutan subsidi hanya persoalan di ‘permukaan’, tapi ada hal-hal yang lebih penting dicermati dan disuarakan. Dan yang kunci utamanya memang pada pemerintahan yang jujur, amanah, dan bervisi. Mudah-mudahan kelak kita memiliki pemerintah yang seperti ini. Amin. (IRIB Indonesia)
Dimuat di IRIB Indonesia dan The Global Review
[1] 1 Rupiah = 1,265 IRR; 1 USD = 12, 285 IRR,  per 21 April 2013, menuruthttp://www.xe.com/currencyconverter/
In memoriam, 1 tahun wafatnya Pak Wid (Dr. Widjajono Partowidagdo), 21 april 2012 – 21 april 2013.
(http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/04/21/dan-iran-pun-cabut-subsidi-bbm-transportasinya/)

KAREN AMSTRONG mangartikulasikan ISLAM yang Welas ASIH
Dina Y. Sulaeman*
Konflik di Timur Tengah yang semakin hari semakin memanas seolah menampilkan sebuah wajah Islam yang kelam. Selain aksi bom bunuh diri yang seolah dianggap ‘lazim’ dilakukan oleh para teroris berlabel Islam di berbagai negara, kita disuguhi parade kebencian yang akut hingga ke level yang paling mengerikan, seperti menggorok leher, mutilasi mayat, atau memakan jantung mayat yang direkam dan diperlihatkan dengan bangga oleh para pelakunya.
Inikah wajah Islam sejati? Pastinya, setiap  muslim yang berhati nurani akan menjawab TIDAK. Lalu, mengapa semua ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya?
Karen Amstrong, seorang pemikir kelas dunia yang telah menulis banyak buku tentang sejarah dan dialog agama-agama,  telah memberikan tawaran solusinya. Pada tanggal 14-15 Juni yang lalu, Amstrong datang memberikan kuliah umum di beberapa universitas di Indonesia. Di Universitas Paramadina, dia menjelaskan dengan  indah, betapa esensi Islam dan berbagai agama samawi lainnya, adalah cinta dan welas asih (compassion). Esensi ini semakin hari semakin terkubur, namun selalu ada semangat dari segelintir orang untuk menggali dan mengartikulasikannya kembali.
Compassion,menurut Amstrong, adalah sesuatu yang sejatinya ada dalam diri manusia. Sikap welas asih berbeda dengan feeling (perasaan) yang biasanya fluktuatif. Kita bisa menyayangi seseorang detik ini, namun di saat yang lain, kita bisa berbalik membencinya dengan berbagai alasan, bahkan alasan yang irrasional sekalipun. Namun sikap welas asih adalah sesuatu yang selalu ada, dalam kondisi apapun, kepada siapapun, bahkan termasuk kepada musuh sekalipun. Menurut Amstrong welas asih adalah bagaikan sikap seorang ibu terhadap bayi yang dilahirkannya, akan selalu ada, meski si anak melakukan hal-hal yang melukai hati sang ibu.
Compassion bisa tumbuh ketika manusia berhasil menekan egonya dan lebih mementingkan sesama. Itulah sebabnya, manusia yang punya sikap welas asih, tidak akan bisa hidup tenang. Dia akan selalu risau memikirkan nasib sesama manusia yang tertindas, dimanapun mereka berada. Dalam sikap welas asih, tidak ada lagi ‘mereka’ atau ‘saya’, yang ada adalah ‘kita’. Terorisme di Afghan, Pakistan, atau Suriah tidak lagi urusan ‘mereka’, karena setiap saat akan bisa hadir di tempat ‘saya’. Karenanya, ini semua adalah urusan ‘kita’ dan kita semua harus bergandengan tangan untuk menyelesaikan problem besar ini.
Di balik segala bentuk kekerasan yang muncul sepanjang sejarah atas nama Islam, justru Islam sesungguhnya adalah agama yang segenap ajarannya bertujuan untuk menumbuhkan sikap compassion dalam diri individu. Amstrong mencontohkan ajaran sholat. Ketika Nabi Muhammad mengajak umatnya untuk bersujud, meletakkan kening di tanah, di sisi Ka’bah, pada saat itu sebenarnya beliau mengajak umatnya untuk melepas ego dan menyadari bahwa manusia adalah hamba Allah dan semua manusia sama-sama hamba sahaya, sama-sama makhluk lemah di hadapan Allah.  Lalu, ajaran zakat. Ketika zakat diwajibkan dengan besaran tertentu, maka zakat menjadi semacam paksaan kepada manusia untuk melepas ego dan rasa cinta pada harta. Zakat berbeda dengan infaq yang bisa fluktuatif, bergantung feeling manusia.
Amstrong juga merefleksikan kisah Hijrah di masa Rasulullah sebagai sebuah ajaran untuk keluar dari ke-aku-an menuju ke-kita-an. Pada masa itu, tradisi kesukuan sangat kental di jazirah Arab. Mereka rela saling membunuh demi membela kehormatan suku dan garis darah. Lalu Rasulullah mengajak umatnya untuk  berhijrah, membaur bersama suku-suku yang lain, dan membangun sebuah masyarakat yang egaliter.
Lalu, siapakah muslim yang tak pernah membaca kisah Perjanjian Hudaibiyah yang dijalin antara Rasulullah dengan kaum musyrik Makkah? Namun,  Amstrong telah menjelaskan esensinya dengan sangat indah (dan Amstrong menyatakan bahwa inilah kisah favoritnya). Rasulullah mengajak umatnya di Madinah untuk berhaji ke Makkah, tanpa membawa senjata. Bagaimana mungkin perjalanan menuju markas musuh dilakukan tanpa membawa senjata untuk membela diri? Tapi itulah yang dilakukan oleh Rasulullah yang memang selalu membawa pesan cinta dalam setiap langkahnya.
Lalu, ketika orang-orang Makkah menghalangi masuknya rombongan haji ke Makkah, dilakukanlah negosiasi dan ditandatanganilah Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini sangat luar biasa dari sisi compassion dan menunjukkan betapa Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat welas asih dan telah melepaskan egonya secara total. Beliau sendiri yang mencoret kata ‘Rasulullah’ dalam naskah perjanjian itu, karena negosiator dari Makkah menolak adanya kata itu.
Yang ada dalam diri Rasulullah hanyalah cinta. Sama sekali tak ada rasa ego dan ketersinggungan saat gelar yang valid dan disematkan langsung oleh Allah SWT itu harus dicoretnya sendiri (dalam naskah perjanjian itu). Gara-gara perjanjian yang sepintas tak adil itu, Nabi Muhammad dikecam oleh sahabat-sahabatnya sendiri. Namun beliau bersabar. Terbukti dua tahun kemudian, welas asih dan cinta Rasulullah-lah yang terbukti ‘menang’, dengan masuknya kaum muslimin secara bebas ke Makkah.
Welas asih, pada akhirnya akan membawa kemenangan. Dan inilah yang diajarkan para Nabi sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan Al Quran pun mengajarkan sikap welas asih jauh lebih banyak daripada sikap keras. Ayat Al Quran yang mengandung nama jamaliah Allah dalam Al Quran (rahman, rahim, ghafur, lathif, dll) disebut 5x lebih banyak daripada ayat yang mengandung sifat jalaliah-Nya (seperti Maha Pembalas, akbar, qawiy, dll). Ibn Arabi mengatakan bahwa bahkan neraka pun diciptakan Allah di dalam prinsip Jamaliah-Nya. Rahmati wasi’at kulla sya’i, rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, demikian firman-Nya.
Allah sedemikian sayangnya kepada hamba-Nya, sehingga tidak ingin hamba-Nya berbuat dosa dan kezaliman, karena akibat buruknya akan menimpa diri si hamba sendiri dan seluruh umat. Bisa kita lihat contohnya hari ini, kezaliman yang dilakukan teroris di satu wilayah, tidak hanya menimpakan musibah bagi korban yang tewas, tapi efeknya sangat masif, melewati batas-batas wilayah negara. Demi menjauhkan para hamba terkasih-Nya dari  kejahatan, Allah menciptakan neraka. Namun, mereka yang benar-benar jahat dan tidak memiliki rasa cinta dan welas asih, akan memandang neraka sebagai bentuk kekejaman Allah.
Kembali ke persoalan, bagaimana menumbuhkan sikap welas asih di level indovidu, masyarakat, dan tujuan akhirnya, di level global? Amstrong memberikan ‘golden rule’yang disarikannya dari ajaran berbagai agama:jangan lakukan sesuatu yang kau tak ingin orang melakukannya pada dirimu.  Kau tak ingin menjadi korban fitnah, jangan memfitnah. Kau tak ingin diserang, jangan menyerang. Kau tak ingin dijajah,jangan menjajah. Kau tak ingin dizalimi, jangan menzalimi. Kau tak ingin dibunuh, jangan membunuh.
Amstrong juga memformulasikan 12 langkah untuk menuju kehidupan yang berwelas asih, yang bisa dibaca dalam buku berjudul Compassion yang diterbitkan Mizan. Di antara 12 Langkah itu adalah tentu saja, mempelajari lebih dalam tentang apa sebenarnya welas asih. Bagi muslim, tentunya kita perlu menggali lagi supaya bisa menemukan bahwa Islam adalah agama yang esensinya adalah welas asih, bukan kekerasan. Lalu, kita perlu belajar untuk berpikir ‘out of the box’. Ketika kita mendambakan dunia yang damai dan penuh welas asih, kita tak bisa lagi selalu berpikir tentang ‘kita’ dan menafikan bahwa ‘mereka’ pun adalah manusia yang sama dengan kita dan punya hak-hak yang sama dengan kita.
Salah satu pertanyaan menarik yang diajukan oleh salah satu hadirin kepada Amstrong, “Apakah Anda pernah menyampaikan ajaran compassion ini kepada kelompok-kelompok yang justru ajaran utamanya adalah intoleransi?” Amstrong menjawab, pernah. Dalam sebuah kuliah umum di sebuah Pakistan, dia harus dikawal dengan pasukan bersenjata karena ajaran compassion bertentangan dengan doktrin kekerasan yang banyak dianut di sana. Di Malaysia, seorang muslim garis keras mengecamnya, mengatakan Amstrong sebagai nonmuslim tidak berhak  bicara tentang Islam. Amstrong menjelaskan bahwa dia tidak hanya bicara tentang Islam, namun dia bicara tentang esensi semua agama. Bahkan dia juga mengakui dalam agamanya sendiri, Kristen, aspek kekerasan juga sangat kental dan dia pun sering berbicara di hadapan mereka. Karena itu, yang diseru Amstrong adalah menciptakan dunia yang welas asih, melintasi batas negara, agama, mazhab, dan ideologi.
Amstrong menggagas Charter for Compassion yang bisa ditandatangani oleh kita semua. Dan dalam tataran praktis, masing-masing individu bisa berkontribusi dalam perjuangan ini dengan cara mempraktikkan kehidupan yang welas asih itu mulai dari diri sendiri, lalu mengajak keluarga dan  masyarakat untuk menumbuhkan rasa welas asih pada sesama.[]
*alumnus magister Hubungan Internasional Unpad, buku Prahara Suriah
(http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/17/karen-amstrong-mengartikulasikan-islam-yang-welas-asih/#more-1413)
KONFLIK Internal dan MASA depan PALESTINA
Dina Y. Sulaeman*
Hiruk-pikuk konflik di Suriah telah membuat banyak orang lupa pada kondisi Palestina. Bagaimana situasi mereka kini? Harian Al-Quds pekan lalu memberitakan bahwa aksi kekejaman Israel terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur semakin meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Sementara Al Ayyam menurunkan berita tentang peta desain pembangunan kuil Yahudi di atas reruntuhan Masjid Al Aqsa.
Resolusi PBB nomor 181 tahun 1947 yang membagi dua wilayah Palestina telah menimbulkan konflik berkepanjangan, yang hingga hari ini belum bisa diselesaikan. Karena ada pihak yang terusir (warga asli Palestina) dan ada pihak yang merasa harus terus mempertahankan wilayah jajahan (Israel), Palestina seolah tak pernah sepi dari berbagai aksi kekerasan. Pada tahun 1967, terjadi Perang Enam Hari antara Israel dan negara-negara Arab pembela Palestina, yang justru berakhir dengan penguasaan seluruh wilayah Palestina oleh Israel (wilayah yang semula dibagi dua oleh PBB, setelah 1967 seluruhnya diduduki Israel).
Sejak itu pula, muncul perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina yang dilakukan secara gerilya dan senjata seadanya; dan dihadapi dengan berbagai operasi militer oleh Israel. Berbagai upaya mediasi antara Israel dan Palestina telah diupayakan oleh komunitas internasional, termasuk dirilisnya ratusan Resolusi PBB terkait konflik Israel-Palestina. Namun berbagai upaya mediasi itu terus menemui jalan buntu, meski sempat tercapai beberapa kemajuan minor, seperti Perjanjian Oslo 1993 yang berisi pembentukan semacam ‘pemerintahan sementara’ di Palestina, yang disebut “Otoritas Palestina” dan pengembalian 2 % wilayah jajahan Israel (yaitu Jalur Gaza dan Tepi Barat) kepada Otoritas Palestina.
Setelah Otoritas Palestina terbentuk, justru muncul konflik internal di dalam tubuh Palestina sendiri, yaitu antara kelompok Fatah yang mendominasi Otoritas Palestina dengan kelompok-kelompok jihad (yang didominasi oleh Hamas).
Dalam pemilu untuk memilih anggota parlemen Palestina, Januari 2006, yang disebut-sebut pengamat internasional sebagai pemilu yang paling demokratis di Timur Tengah, Hamas meraih kemenangan. Fatah dan Hamas sempat membentuk pemerintahan bersama, namun akhirnya terjebak dalam konflik kekerasan. Sejak tahun 2007, secara de facto ada dua pemerintahan di Palestina, kelompok Hamas berkuasa di Gaza, dan kelompok Fatah menguasai Tepi Barat.
Dengan demikian, secara garis besar ada konflik segitiga di wilayah yang diperebutkan oleh Palestina dan Israel itu, yaitu Israel versus Otoritas Palestina (Fatah) versus Pejuang Islam (diwakili Hamas). Situasi konflik ini jelas menyulitkan proses resolusi Palestina-Israel karena di pihak Palestina tidak (belum) ada wakil yang diakui oleh mayoritas rakyat Palestina. Apapun keputusan yang diambil oleh Otoritas Palestina (Fatah) dalam perundingan dengan Israel, akan dianggap sebagai keputusan sepihak yang tidak diakui oleh Hamas. Akibatnya, proses mediasi dan negosiasi antara Palestina dan Israel menjadi mentah dan tidak membawa hasil yang diharapkan.
Konflik Fatah-Hamas
Saya melihat, persoalan utama yang mesti diselesaikan dulu di Palestina adalah menyatukan suara internal. Bila di dalam negeri sendiri masih berkonflik, siapapun tahu, perjuangan tidak akan maksimal. Namun, masalahnya, justru kedua organisasi ini berseteru (belum lagi bila kita memperhitungkan organisasi/kelompok-kelompok lain di Palestina).
Bila konflik ini dianalisis dengan menggunakan skema Segitiga Konflik dari Galtung, penulis menyimpulkan hal-hal berikut ini.
Kontradiksi (contradiction): Fatah-Hamas saling kontradiktif dalam visi dan strategi mereka terkait kemerdekaan Palestina. Fatah selalu mengedepankan negosiasi dengan Israel, bahkan bersedia menjadi tameng bagi Israel dengan cara merepresi (menembak, menangkap) kelompok-kelompok jihad atau rakyat biasa yang melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap warga Israel.  Sebaliknya, Hamas memandang bahwa berbagai serangan terhadap Israel (bom bunuh diri, serangan rudal, atau lemparan batu) yang dilakukan warga Palestina adalah semata-mata balasan sporadis atas berbagai operasi militer yang dilancarkan Israel terhadap Palestina sejak tahun 1947.
Perilaku (attitude):  Fatah melakukan aksi-aksi represif terhadap warga Palestina yang melakukan aksi kekerasan, termasuk menangkap dan menahan para aktivis Hamas. Kekuatan Fatah adalah sekitar 80.000 personel, termasuk polisi, intelijen, paengawal presiden, dan Brigade Al Aqsa. Satuan keamanan Otoritas Palestina mendapat pelatihan, pasokan senjata, dan dana militer sebesar 86,4 Juta Dollar (dari AS.[1] Kekuatan Fatah sangat tidak berimbang dibandingkan dengan Hamas yang hanya memiliki 15.000 personil yang tergabung dalam Brigade Izzuddin Al Qasam.[2]
Sikap (behavior): Fatah dan Hamas saling mempersepsi satu sama lain sebagai musuh yang menghambat tercapainya cita-cita kemerdekaan Palestina. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu Palestina merdeka, namun karena memiliki strategi yang berbeda, terjadi perbedaan persepsi satu sama lain. Fatah memandang sikap non-kompromis Hamas terhadap Israel justru menjadi penyebab semakin besarnya serangan dan tekanan Israel terhadap warga Palestina. Sebaliknya, Hamas memandang Fatah sebagai pengkhianat karena mau menjalin perjanjian damai dengan Israel walaupun mengorbankan rakyat Palestina. Salah satu butir isi perjanjian Oslio 1993 adalah Otoritas Palestina berjanji mengamankan Israel dari segala bentuk serangan ‘terorisme’, padahal konsesi yang didapatkan Palestina hanya pengembalian 3% dari wilayah yang ditetapkan Resolusi 181.
Mungkinkah Hamas-Fatah Bersatu?
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam proses mediasi Palestina-Israel, adalah menyelesaikan dulu persoalan internal di Palestina. Setelah Palestina ‘satu suara’, barulah mereka maju ke meja perundingan dengan Israel, dan apapun hasil yang dicapai akan diterima sebagai keputusan bersama bangsa Palestina. Dalam perspektif realis, resolusi konflik yang sama-sama menguntungkan para pihak akan sulit dicapai karena para  pihak yang bertikai pasti akan memertahankan interest mereka masing-masing. Resolusi yang mungkin terjadi dalam situasi ini adalah win-lose resolution, yaitu satu pihak meraih apa yang diinginkannya, sementara pihak lain kalah dan terpaksa melepaskan apa yang diinginkannya. Memang benar, biasanya pihak yang berkonflik akan berkeras memertahankan kepentingan mereka. Kalau perlu, biarlah pihak lain yang hancur (win-lose). Namun, bila dihadapkan kepada pilihan bahwa kedua pihak mungkin akan sama-sama hancur (lose-lose) bila mereka terus berkeras pada kehendak masing-masing, sangat mungkin kedua pihak mau berkompromi dan saling memberikan kompensasi. Tugas mediator adalah menolong pihak-pihak yang berkonflik untuk menggeser pandangan mereka dari konflik zero-sum dan bergerak ke arah postive-sum (Miall et al, 1990:6).Bila kita meninjau masalah ini dari perspektif kajian resolusi konflik, ternyata ada berbagai peluang resolusi selain win-lose resolution, yaitu sebagai berikut. Ketika A dan B berkonflik untuk memerebutkan suatu hal, misalnya wilayah tertentu, selain win-lose resolution, ada lima situasi yang mungkin terjadi:
  1. Seandainya A tidak terlalu berkeras, sementara B sangat berkeras, maka kemungkinannya B akan berjuang keras (contending) untuk menguasai wilayah tersebut.
  2. Seandainya A berkeras, dan B tidak terlalu berkeras, B akan mengalah (yield)
  3. Seandainya A dan B sama-sama tidak berkeras, maka mereka akan menghindari konflik (withdrawal).
  4. Seandainya A dan B sama-sama berkeras, tapi tidak terlalu berkeras, bisa dicapai kesepakatan di antara mereka (compromising).
  5. Seandainya A dan B sama-sama berkeras mempertahankan interes mereka, namun di saat yang sama juga mereka juga saling memahami aspirasi dan kebutuhan pihak lain, maka bisa dicapai resolusi yang terbaik, yaitu penyelesaian masalah (problem solving). Inilah tahap terbaik yang mungkin dicapai melalui Resolusi Konflik (Miall et al, 1999: 5-6).
Artinya, secara teoritis, jawabannya adalah MUNGKIN Hamas dan Fatah bersatu. Sayangnya, perkembangan Timteng akhir-akhir ini semakin memburuk. Para elit Hamas telah mengambil langkah-langkah yang justru semakin menjauhkan Palestina dari kemerdekaannya, yaitu dengan bersatu bersama Barat dan negara-negara Arab dan Turki untuk menggulingkan rezim yang justru selama ini membela mereka. Sebaliknya, berita terbaru menyebutkan bahwa Brigade Al Aqsa, sayap militer Fatah, malah menyatakan akan mempererat hubungan dengan Hizbullah demi tercapainya kemerdekaan Palestina. Persoalan ini jelas semakin memecah konsentrasi mereka dalam memperjuangkan persatuan internal (itupun bila mereka memang ada niat untuk itu) dan perjuangan melawan penjajahan Israel. Masa depan Palestina, sayang sekali, masih belum memperlihatkan titik terang.
* research associate of Global Future Institute, penulis buku Prahara Suriah

[2] Data jumlah pasukan Fatah-Hamas: http://english.turkcebilgi.com/Fatah-Hamas+conflict

Al-Zahar: Hamas Tetap Berhubungan Baik dengan Iran dan Hizbullah

Mahmoud Al-Zahar seorang pejabat tinggi Gerakan Jihad Islam Palestina (Hamas) menekankan hubungan baik kelompok muqawama ini dengan Iran dan Hizbullah.

IRNA melaporkan, Al-Azahar hari ini (Rabu, 19/6) menyinggung pernyataan terbaru Hamas yang anti-Hizbullah dan mengatakan, "Pernyataan itu tidak merefleksikan kebijakan resmi Hamas, dan bahwa pernyataan terbaru tentang krisi di Suriah membuktikan bahwa ini bukan sikap Hamas."

Situs Al-Ahd Al-Akhbari kemarin (18/6) menyinggung pernyataan anti-muqawama di Suriah oleh Hamas. Terkait hal ini, Al-Zahar mengatakan, pernyatan itu dirilis di luar Gaza dan tidak merefleksikan keputusan Hamas terkait krisis Suriah dan juga terhadap Hizbullah.

Lebih lanjut dijelaskannya, "Hamas tetap menjaga hubungan baiknya dengan Republik Islam Iran, Hizbullah Lebanon dan semua kelompok Palestina. Hubungan tersebut tidak terpengaruhi akibat transformasi di kawasan saat ini."(IRIB Indonesia/MZ)

SOAL Senjata KIMIA Assad
Konflik di Suriah memasuki tahap baru. Setelah tentara Suriah berhasil mengalahkan para pemberontak (dan ribuan dari mereka terbukti adalah pasukan asing dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia), AS dan sekutunya mulai melancarakan serangan propanda baru: Assad menggunakan senjata kimia. Tujuan akhirnya, apa lagi kalau bukan menggalang persetujuan internasional untuk menyerang Suriah, sebagaimana dulu AS menyerang Irak (dengan alasan Saddam punya senjata biologis, dan kemudian terbukti bohong belaka).
Berikut ini, saya terjemahkan yang sangat bagus dari Robert Fisk, jurnalis senior Inggris yang bahkan sudah meliput Suriah sejak masa Hafez Al Assad.
Semakin besar kebohongan, orang akan semakin percaya. Kita tahu siapa yang mengatakan ini, tetapi [rumus] ini tetap dipakai.’Bashar al-Assad memiliki senjata kimia. Dia mungkin menggunakannya terhadap rakyatnya sendiri. Dan bila dia melakukannya, Barat akan merespon.’ Kita telah mendengar kalimat ini sejak tahun lalu dan Assad pun sudah berkali-kali menjawab bahwa jika dia benar-benar punya senjata kimia, dia tidak akan menggunakannya terhadap rakyatnya sendiri.
Tetapi sekarang Washington sedang memainkan ‘mantra gas’ ini lagi: ’Bashar al-Assad memiliki senjata kimia. Dia mungkin menggunakannya terhadap rakyatnya sendiri. Dan bila dia melakukannya…
Well, bila dia melakukannya, Obama dan Madame Clinton [sekarang posisi menlu AS sudah digantikan Kerry—pent] dan NATO akan sangat, sangat marah. Selama sepekan yang lalu, semua orang-orang yang mengaku-ngaku pakar, yang bahkan tidak tahu di mana letak Suriah di atas peta, telah memperingatkan kita atas bahayamustard gaschemical agents, atau biological agents yang mungkin dimiliki dan mungkin digunakannya. Dan sumbernya? Para spesialis khayalan yang tidak memperingatkan kita tentang 9/11 tetapi berkeras mengatakan bahwa Saddam punya senjata pembunuh massal pada 2003; mereka disebut “sumber intelijen militer yang namanya tidak diungkap”  (unnamed military intelligence sources, disingkat UMIS).
Dan sekarang, coup de théâtre. Seseorang dari Canadian Broadcasting Corporation menelepon saya minggu ini untuk berbicara tentang penggunaan senjata kimia oleh Hafez al-Assad di Hama selama pemberontakan Muslim Sunni di kota pada tahun 1982. Sumber-sumber mereka, lagi-lagi adalah UMIS yang sama. Tapi saya kebetulan pernah datang ke Hama pada bulan Februari 1982 (dan itulah sebabnya orang Kanada ini menelpon saya). Meskipun saya lihat jelas bahwa tentara Suriah di bawah Hafez Al Assad memang membantai rakyatnya sendiri (yang, by the way, ‘rakyat’ ini adalah para pembantai pejabat rezim berikut keluarga mereka), tidak ada yang pernah menggunakan senjata kimia. Tidak seorang prajurit pun yang saya lihat di Hama membawa masker gas. Tidak ada warga sipil membawa masker gas. Sama sekali tidak ada bau khas berbahaya yang pernah saya dan para jurnalis cium setelah penggunaan senjata kimia oleh Saddam (yang waktu itu masih berstatus sekutu Barat) terhadap tentara Iran di tahun 1980-an. Dan tak satu pun dari puluhan korban sipil Suriah yang telah saya wawancarai selama 30 tahun sejak tahun 1982 pernah menyebutkan penggunaan gas [di Hama].
Tetapi kita sekarang dibuat untuk percaya bahwa senjata kimia pernah digunakan di Hama. Dan dongeng kekanak-kanakan baru telah dimulai: Hafez al-Assad menggunakan gas terhadap rakyatnya sendiri di Hama 30 tahun yang lalu. Jadi, sekarang, anaknya Bashar mungkin akan melakukan hal yang sama lagi. Dan bukankah ini telah kita jadikan alasan untuk menyerang Irak pada tahun 2003:karena Saddam telah menggunakan gas terhadap rakyatnya sendiri, jadi mungkin saja dia akan melakukannya lagi?
Ya, semakin besar kebohongan, semakin baik. Tentu saja kami para jurnalis telah melakukan tugas kami dalam mensosialisasikan omong kosong ini. Dan Bashar – yang pasukannya telah dianggap melakukan kejahatan akan segera dituduh melakukan kejahatan lain, yang sebenarnya belum dilakukannya dan ayahnya pun tidak pernah melakukannya. Yup, senjata kimia adalah berita buruk. Itulah mengapa AS menyuplai Saddam dengan senjata kimia, bersama dengan Jerman (tentu saja).
Itulah sebabnya, ketika Saddam pertama kali menggunakan gas di Halabja, UMIS mengatakan kepada CIA bahwa Iran-lah pelakunya. Dan ya, Bashar kemungkinan memang memiliki sejumlah bahan kimia di tong-tong karatan entah di bagian mana Suriah. Madame Clinton selama ini mengkhawatirkan bahwa bahan kimia itu ‘mungkin jatuh ke tangan yang salah’, seolah-olah selama ini bahan kimia ini berada ‘di tangan yang benar’. Tetapi Rusia telah mengatakan kepada Bashar agar tidak menggunakan senjata kimia. Apakah Bashar mau membangkang pada satu-satunya sekutu superpowernya?
And by the way, siapakah tentara yang pertama kali menggunakan gas di Timur Tengah? Saddam? Tidak. Tentara Inggris, tentu saja, di bawah General Allenby, melawan pasukan Turki di Sinai tahun 1917. Dan itulah yang sebenarnya. -akhir artikel Fisk-
Lalu, apa kata Bashar sendiri soal tuduhan senjata kimia ini? Dalam wawancaranya dengan Seipel, Februari 2013, Assad mengatakan, “Apakah Anda pernah mendengar ada negara yang menggunakan senjata kimia untuk memerangi terorisme? Saya tidak pernah mendengarnya. Ini adalah senjata pembunuh massal. Bagaimana saya menggunakannya untuk memerangi kelompok-kelompok kecil teroris yang menyebar di berbagai tempat, terutama di perkotaan? Anda memerangi mereka di pinggiran kota. Anda baru saja mengatakan bahwa Anda mendengar suara bom di pinggiran kota, Anda tidak mendengarnya di padang pasir, atau di daerah yang jauh dari kota. Jadi ini tidak realistis dan tidak logis. Saya pikir, mereka menggunakan [tuduhan] ini sebagai alasan untuk lebih menekan [saya] atau supaya ada agresi [intervensi militer asing] di Suriah.” (bagian ini dikutip dari buku Prahara Suriah hlm 184).(http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/15/soal-senjata-kimia-assad/#more-1404)

SUNNI = TAKFIRI..????!!!!!????
Dina Y. Sulaeman*
Mau tak mau, ada beberapa istilah yang sepertinya harus kita pahami bersama saat menganalisis atau membaca analisis tentang konflik Timur Tengah. Beberapa istilah yang sering muncul dalam membahas konflik Suriah adalahtakfiri dan wahabi. Era Muslim baru-baru ini dalam sebuah artikel yang mengutip pidato Sayyid Hassan Nasrallah, membuat judul yang provokatif :Hasan Nasrallah : Kami Tidak akan Biarkan Suriah Jatuh Ke ‘Takfiri’ (Muslim Sunni).
Eits, sebentar, judul ini cukup mengganggu pikiran saya. Takfiri adalah perilaku mengkafir-kafirkan sesama muslim dan melakukan kekerasan terhadap orang yang mereka anggap kafir. Apakah benar takfiri itu adalah muslim Sunni? Saya tanya kepada Anda semua yang mengaku Sunni, apakah Anda menyukai perilaku demikian? Apakah Anda menyukai perilaku main serang ke sebuah lembaga atau sebuah kampung hanya dengan alasan lembaga itu kafir atau penduduk kampung itu kafir (muslim tapi karena dinilai ‘sesat’, jadi dikategorikan kafir)? Atau apa Anda setuju dengan perilaku pemberontak Suriah yang makan jantung mayat atau memutilasi mayat sambil berteriak takbir? Saya yakin, jawaban sebagian besar dari kita semua adalah TIDAK.
Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya membuktikan bahwa kaum takfiri itu beda dengan Sunni. Kejadian ini berlangsung di kantor Grand Shaikh Al-Azhar Kairo Mesir (Masyikhah). Wah, para syekh Al Azhar ini kurang Sunni apa? Mereka kan benar-benar Sunni tulen, sudah tingkat ulama ‘Grand” pula? Tapi, kantor mereka digeruduk oleh para demonstran dari kalangan ‘Islam radikal’ (ini istilah yang dipakai dalam berita ini. Tapi, di berita itu disebutkan pula bahwa mereka meneriakkan yel-yel dan cacian terhadap instansi Al-Azhar, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb, dan seluruh pegawai Al-Azhar. Mereka menyatakan bahwa Al-Azhar adalah instansi kafir. So tak salah lagi, inilah kaum takfiri itu. Bahwa para penentang ulama Al Azhar adalah kaum takfiri, bisa dibaca juga dalam pernyataan seorang Syekh Al Azhar, Dr. Ahmad Karimah di sini.
Saya pun bertanya kepada Bapak Agus Nizami, bloggerhttp://www.kabarislam.wordpress.com dan owner web http://www.media-islam.or.id yang aktif memberikan analisis konflik Timur Tengah dengan menggunakan landasan teks agama.  Berikut kutipan diskusi kami.
Dina [D]: Apakah benar Sunni itu sama dengan takfiri?
Agus Nizami [AN]: Islam itu terbagi 3: Sunni, Syiah, dan Khawarij. Sunni dan Syiah diakui sebagai mahzab resmi dalam Islam melalui Deklarasi Amman. Khawarij itu akidah dan ibadahnya bagus, cuma mereka ini takfiri (suka mengkafirkan sesama muslim). Khawarij ini aliran keras yang menghalalkan darah sesama muslim dan terlibat dalam pembunuhan khalifah ke-3 Utsman bin Affan.
Nah, pemikiran kaum khawarij ini digunakan oleh Muhammad  bin Abdul Wahab dan para pengikutnya sehingga disebut ‘Wahabi’.  Siapa sebenarnya Abdul Wahab ini, bisa dibaca dalam tulisan saya di sini. Dr. Ali Jumah, mufti Mesir mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan militan dan teror. Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar, mengatakan bahwa Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada manhaj salaf. Dr. Yusuf Qardawi mengatakan bahwa Wahabi adalah gerakan fanatik buta yang menganggap dirinya paling benar tanpa salah dan menganggap yang lain selalu salah tanpa ada kebenaran sedikitpun. Dr. Wahbah Az-Zuhayli mengatakan, Wahabi adalah orang-orang yang suka mengkafirkan mayoritas muslim selain dirinya sendiri. Syekh Hisyam Kabbani, ketua tariqah Naqshabandi dunia, mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan neo-Khawarij . KH. Agil Siradj, ketua PBNU, mengatakan dalam berbagai kesempatan melalui artikel yang ditulisnya, wawancara tv, dan seminar bahwa terorisme modern berakar dari ideologi Wahabi.
Pendapat para ulama Sunni tentang Wahabi selengkapnya bisa dibaca di tulisan saya ini.
Tapi di era modern, paham Wahabi ini berintegrasi ke dalam organisasi-organisasi transnasional, seperti Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin. Orang-orang Wahabi modern ini meski pada dasarnya takfiri, tapi mereka tidak  bersikap frontal dan lebih mengedepankan pemikiran (bukan fisik). Dan karena mereka bermain di pemikiran, penampilan mereka memang lebih modern, moderat, dan intelektual sehingga diterima oleh banyak kalangan intelektual (mahasiswa, akademisi, kaum profesional). Jadi, banyak dari mereka yang menolak disebut takfiri atau wahabi. Bahkan sebagian pengikut Wahabi kini menyebut diri dengan istilah baru, yaitu Salafi.
Tapi dalam konflik Suriah, akar pemikiran takfiri dari HT dan IM menjadi terungkap. Misalnya, dengan menuduh pemerintah Qaddafi atau Assad sebagai kafir kemudian menghalalkan bughot (pemberontakan terhadap pemerintah yang sah). Perilaku-perilaku takfiri atau khawarij atau wahabi yang selama ini tertutupi oleh modernitas  dan keintelektualan pun terungkap dan membuat kaget banyak orang, misalnya pembantaian muslim yang dalam kondisi tanpa senjata dan kemudian memutilasinya atau milisi pemberontak yang makan jantung mayat.
[D]: Saya yakin, umat Islam Indonesia kalangan inteletual, yang tergabung dalam HT dan IM sebagian besarnya tidak setuju dengan perilaku seperti itu, ya kan?
[AN]: Bisa jadi. Tapi makanya kita musti menelusuri akar sebuah pemikiran, jangan hanya percaya pada hal-hal di permukaan.  Pemikiran takfiri berakar pada sikap orang-orang Khawarij, dan sudah banyak ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits yang membahas hal itu. “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)  “Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)
Padahal ada banyak ayat Al Qur’an yang melarang kita bersu’uzhon (buruk sangka), mengolok-olok sesama, mengkafirkan sesama muslim, dan membunuh sesama muslim. Sayangnya justru dari mulut para takfiri alias wahabi ini justru sering terlontar berbagai caci-maki terhadap sesama muslim seperti ahlul bid’ah, sesat, kafir,  dan sebagainya. Saya sudah menulis lebih lengkap soal perilaku takfiri ini di sini
[D]: Bapak tadi menyebut Deklarasi Amman. Bisa dijelaskan?
[AN]: Deklarasi Amman ditandatangani tahun 2006 oleh 200 Ulama (Sunni dan Syiah) dari 50 negara, isinya menyatakan Syiah tidak sesat dan dilarang mengkafirkan. Di antaranya yang menandatanganinya, adalah ulama NU, KH Hasyim Muzadi, ulama Muhammadiyah, Din Syamsuddin, dan ulama Suriah yang syahid dibom teroris, Syekh Al Buthi, serta Yusuf Qardhawi. Sekarang, yang menandatangani deklarasi ini sudah lebih dari 500 ulama dari 84 negara. Infonya bisa dibaca di sini.
[D]: Yusuf Qardhawi juga menandatangani Deklarasi Amman, dan bahkan juga memberikan definisi Wahabi, tapi mengapa dia mengeluarkan fatwa mati untuk Qaddafi dan seluruh pendukung Assad?
[AN]: Bisa saja dia berubah pikiran. Saat dia mengeluarkan fatwa mati untuk Qaddafi dan seluruh pendukung Assad termasuk ulama, padahal mereka ini muslim, artinya dia sudah masuk ke golongan takfiri.
[D]: Saya lihat, kaum takfiri di facebook juga suka mengkafir-kafirkan Syiah, alasannya karena Syiah konon suka mencaci sahabat.
[AN]: Pertama, apakah parameter kekafiran itu mencaci-maki? Sesungguhnya ada 6 Rukun Iman (Allah, Malaikat, Kitab Suci, Nabi, Hari Akhir, dan Qadla serta Qadar) dan 5 Rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat Syahadah, Shalat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, Zakat, dan Haji jika mampu). Jika mengingkari salah satunya, misalnya tidak mau shalat, baru kita bisa mengatakan orang itu kafir, atau bila mengaku ada nabi setelah Nabi Muhammad.  Selengkapnya bisa dibaca di sini.
Kedua, harusnya sih tabayyun langsung ke kaum Syiah. Apa dari 200 juta kaum Syiah, semua mereka menghina sahabat apa cuma segelintir orang saja? Jadi tak bisa gebyah-uyah. Di setiap kelompok pasti ada saja yang melenceng.  Di Sunni pun toh ada juga yang punya pemahaman melenceng. Setahu saya, pemimpin Syiah Ali Khamenei dan Ahmadinejad mengharamkan orang-orang Syiah menghina sahabat/istri Nabi.  Bisa baca di sini.
Kesalahan kaum takfiri atau wahabi adalah mereka tidak mau tabayyun ke kaum Syiah yang mereka fitnah karena memang niatnya memang cuma bikin fitnah. Padahal Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [Al Hujuraat 6]
Mengkafirkan Muslim itu dosa dan berbalik ke dirinya jika tak benar.  “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu (atau mengucapkan Tahlil): “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta
benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu [dulu juga kafir], lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” [An Nisaa' 94]
[D]: Bughot itu sebenarnya gimana sih?
[AN]: Bughot itu artinya memberontak terhadap pemerintah yang sah dengan senjata. Firman Allah kepada Musa, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaahaa 43-44]. Kepada Firaun saja Allah menyuruh Musa berlemah lembut.
Membunuh sesama Muslim tempatnya neraka, menurut hadis “Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari).
Penjelasan selengkapnya soal hukum bughot sudah saya tulis di sini.
[D]: Bagaimana pendapat bapak soal keinginan mendirikan khilafah di Libya dan Suriah?
[AN]:  Sebenarnya, tindakan untuk mengajak umat kembali ke ajaran Islam yang benar adalah baik dan harus dilakukan. Yang penting jangan sampai melakukan kekerasan fisik, merusak harta benda orang lain, apalagi sampai buhgot. Tapi yang terjadi di Suriah kan sebaliknya. Puluhan ribu rakyat sipil terbunuh. Ada pemberontak yang bangga memenggal kepala korban dan menaruhnya di pembakaran sate, ada yang memakan jantungnya, ada juga yang dengan bangga menenteng kepala korbannya. Jika kebencian dan kedengkian diajarkan/diindoktrinasi, hasilnya ya seperti ini. Bisa lebih kejam/sadis daripada kelompok yang difitnah. Padahal bisa jadi korban yang mereka bunuh itu masih sholat.
Inilah kaum yang disebut Allah dalam Quran:  “Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [Al Baqarah 11-12]
[D]: Kaum takfiri juga menghancurkan makam sahabat Nabi di Suriah, saya pernah nulis laporan soal ini, lalu ada yang email ke saya, memrotes, katanya, dalam Islam memang tak boleh meninggikan kuburan dan harus dihancurkan.
[AN]: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Janganlah kamu biarkan satu patung pun melainkan harus kamu hancurkan, jangan pula kubur yang ditinggikan melainkan harus kamu ratakan.” Hadits ini shahih, diriwayatkan Muslim (3/61). Tapi ini menyangkut kuburan orang-orang nonmuslim yang ada berhalanya. Bukan kuburan Muslim. Justru Nabi mengajarkan kita agar menziarahi kuburan Muslim; bukan membongkarnya. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu setiap malam gilirannya di tempat Aisyah, beliau s.a.w. lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan -yang artinya-: “Keselamatan atasmu semua hai perkampungan kaum mu’minin, akan datang padamu semua apa-apa yang engkau semua dijanjikan besok yakni masih ditangguhkan waktunya. Sesungguhnya kita semua ini Insya Allah menyusul engkau semua pula. Ya Allah, ampunilah para penghuni makam Baqi’ Algharqad ini.” (Riwayat Muslim)
[D]: Kembali lagi ke pemberitaan Eramuslim yang menyebut Muslim Sunni sebagai Takfiri. Berarti itu salah ya?
[AN]: jelas salah. Takfiri itu adalah Wahabi, ajarannya sudah melenceng dari ajaran Islam Sunni.
*research associate of Global Future Institute
artikel ini ditulis untuk The Global Review

ERDOGAN (TURKI) kena batunya...!!!!!
Oleh : Dina Y. Sulaeman*
Menyusul terjadinya aksi demo di berbagai kota di Turki yang dihadapi dengan represif oleh polisi Turki, Menteri Penerangan Suriah Omran Al-Zoabi menyerukan Erdogan agar turun dari jabatannya. Al-Zoabi juga menyatakan, “Erdogan mengendalikan negaranya dengan cara-cara teror, menghancurkan peradaban dan prestasi rakyat Turki.”
Pernyataan Al Zoabi ini bisa dianggap sebagai sindiran telak untuk Erdogan. Masih tak luput dari ingatan para pemerhati konflik Suriah, bulan November 2011, Erdogan menyeru kepada Assad, “Untuk kesejahteraan rakyatmu sendiri dan kawasan, tanggalkan saja kursi itu.”
Tak sekedar menyeru Assad mundur, Erdogan bahkan menyediakan wilayahnya sebagi base-camp para milisi bersenjata yang tergabung dalam Free Syrian Army. Bahkan Edogan mengizinkan kelompok-kelompok jihad yang berafiliasi dengan Al Qaida untuk menggunakan wilayah Turki sebagai tempat lalu lalang pasukan dan suplai senjata. Di sisi diplomatik pun, Erdogan pun menyediakan negerinya sebagai tuan rumah bagi berbagai negosiasi di antara para oposan Suriah dengan AS, Prancis, Inggris, Qatar, dan Arab Saudi.
Syria memang lahan petualangan politik yang sangat impulsif bagi Erdogan. Erdogan awalnya berusaha menjadi pemain utama di Timur Tengah dengan berbaik-baik kepada semua negara tetangganya dan membawa slogan zero problems with neighbours (nol problem dengan tetangga). Hanya setahun sebelum krisis Suriah meledak, Erdogan dan Assad bahkan bertemu dalam sebuah pertemuan yang penuh persahabatan,untuk membangun sebuah bendungan di sungai Orontes. Bendungan itu bahkan dinamai ‘Bendungan Persahabatan’.
Turki juga berusaha menjadi mediator bagi Israel-Syria untuk menyelesaikan konflik panjang mereka selama ini, meski akhirnya gagal. Untuk urusan Israel, sejak tahun 2009 Erdogan naik daun dan dipuja-puja kaum muslimin dunia. Gara-garanya, dalam sebuah konferensi internasional di Davos, Swiss, Januari 2009, Erdogan blak-blakan mengkritik Israel dengan mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Simon Peres membunuh anak-anak dan wanita-wanita tak berdosa di Gaza. Setelah berbicara demikian, Erdogan melakukan aksi walk out dari konferensi tersebut.
Peristiwa tahun 2009 itu sangat fenomenal dan dalam sekejap menaikkan pamor Erdogan. Dia pun dipuja-puja oleh banyak kaum muslimin dunia yang memang sangat mendambakan adanya pemimpin yang berani melawan Israel selain Ahmadinejad yang kurang disukai kaum takfiri. Tahun 2010, sikap keras Erdogan terhadap Israel berlanjut dengan dukungannya terhadap pengiriman bantuan ke Gaza. Bantuan itu dibawa para aktivis pembela Palestina dengan menggunakan kapal milik Turki, yang bernama Mavi Marmara.
Namun, konflik Suriah telah membawa Erdogan, dan Menlunya, Davutoglu, ke ujung tanduk. Demi ambisi untuk menjadi penguasa Timur Tengah, mereka mengabaikan doktrin diplomasi mereka sendiri (zero problems with neighbours) dan mau bersekutu dengan AS dalam mendukung pemberontak Suriah. Namun, mereka miskalkulasi. Dengan berpihak kepada Barat dan menjadi pion pelaksana ambisi Barat terhadap Suriah, justru akhirnya Turki yang kelimpungan. Sumber dana terkuras untuk ikut saweran mendanai para pemberontak Suriah. Wilayah perbatasannya menjadi tidak aman karena digunakan sebagai base-camp para pemberontak. Saling balas serangan rudal pun terjadi antara militer Turki dan Suriah, menimbulkan ketidakamanan.
Etnis Kurdi pun seolah mendapat kesempatan untuk bangkit melawan rezim Erdogan. Gelombang pengungsi dari Suriah juga membanjiri Turki dan siapapun tahu betapa repotnya (dan mahalnya) mengurus pengungsi perang. Kini, mereka merasakan sendiri akibatnya. Tidak ada yang akan mau mengganti semua kerugian yang diderita Turki akibat ikut-ikutan melibatkan diri dalam konflik Suriah. Rakyat Turkilah yang harus menanggung kerugian akibat ketertipuan Erdogan.
Tak heran bila kini Erdogan menuai hasil dari benih yang ditebarnya. Demo rakyat Turki telah memberikan tamparan telak kepada Erdogan. Mari kita tunggu saja perkembangannya. Apakah AS akan bersuara meminta Erdogan mundur dengan alasan ‘melakukan kekerasan kepada demonstran’? Bila itu terjadi, artinya AS memang tak butuh Erdogan lagi dan menginginkan terjadinya perubahan rezim di Turki. Tapi bila AS diam saja, sebagaimana diamnya menyaksikan aksi represi brutal rezim Al Khalifa di Bahrain terhadap para demonstran, maka ini lagi-lagi bukti betapa munafiknya AS. Jargon ‘penghormatan pada demokrasi’ bagi AS hanya digunakan untuk menumbangkan rezim yang tidak diinginkannya.
*research associate of Global Future Institute

GERAKAN TRANSNASIONAL di SURIAH : Refleksi untuk INDONESIA
Oleh: Dr. Ainur Rofiq Al-Amin*
Salah satu faktor determinan berlarutnya masalah Suriah adalah masuknya negara asing. Baik negara asing penyokong oposisi, seperti Amerika, negara Uni Eropa, serta Arab Saudi, Qatar, dan Turki; maupun negara asing pendukung rezim seperti Rusia, China, dan Iran.
Tidak hanya negara asing, Suriah menjadi destinasi “jihad” gerakan Islam transnasional. Bisa disebut Jabhat al-Nusrah yang berafiliasi dengan al-Qaidah yang ideologi alirannya masuk Wahabi. Banyak para kombatannya dari berbagai negara Timur Tengah, bahkan dari Barat. Demikian juga brigade Ansarul Khilafah dan afiliasinya. Hampir bisa dipastikan, kelompok minoritas ini adalah simpatisan dan aktivis Hizbut Tahrir.
Setelah terbentuknya Syrian National Council (SNC), kelompok oposisi terbelah. SNC berupaya menumbangkan kediktatoran Basyar Assad. Sedang kelompok Jabhah al-Nusrah yang akhirnya bergabung dengan Ansar al-Khilafah menginginkan negara Islam atau negara Khilafah.
Tentu kelompok Islam transnasional ini berkontribusi besar dalam gerakan bersenjata dan aksi bom bunuh diri. Perang di Suriah ini telah memakan banyak korban mulai dari anak-anak, hingga tokoh besar Ahlussunnah, Said Ramadhan al-Buthi. Bahkan yang ganjil, masjid ikut diledakkan, serta mayat sahabat Nabi diambil jenazahnya oleh kelompok Takfiri (NU Online 07/05/2013).
Konflik ini akan terus membara bila pihak asing tetap terlibat. Terlebih lagi Barack Obama siap mengirim senjata ke oposisi (BBC News 2/04/2013), tidak ketinggalan Israel berupaya uji eksperimen dengan pengeboman. Di pihak lain, pejuang Hizbullah yang mayoritas Syi’ah juga mengirimkan pasukannya (Arabia MSN News 5/05/2013).
Kalau skenario di atas terus berjalan, konflik sektarian akan terjadi. Beberapa minggu lalu, oposisi menghujani distrik Syiah di utara Aleppo dengan mortir (Irib Indonesia 8/05/2013). Naifnya, para petempur mengatasnamakan agama. Bahkan Abu Sakkar, pendiri kelompok brigade Umar al-Farouq membelah dada tentara Syiria dan memakan jantung tentara tersebut. Ini mengingatkan kepada Hindun yang memakan jantung Hamzah, paman Nabi pasca perang Uhud. Naifnya lagi, sambil makan jantung, Abu Sakkar mengajak bertakbir. Kalau perang atas nama agama untuk menegakkan ‘syariah’ ini terus terjadi, maka mereka mengamini tesis. A.N. Wilson dalam bukunya “Against Religion: Why We Should Try to Live Without It? bahwa agama adalah penanggung jawab terjadinya peperangan.
Terjadinya konflik sektarian ini setemali dengan saran RAND Corporation dalam risetnya yang berjudul, “US Strategy in the Muslim World after 9/11”. Rand Corporation menganjurkan kepada Amerika agar mengeksploitasi perbedaan Sunni dan Syi’ah demi kepentingan Amerika di kawasan.
Refleksi untuk Indonesia
Indonesia sebagai negeri dengan tingkat keragaman yang tinggi telah sepakat dengan NKRI dan Pancasila. Secara historis, memang pernah terjadi perdebatan sengit tentang dasar negara, Islam atau Pancasila. Namun, akhirnya Pancasila yang dipilih.
Seiring era reformasi, kran kebebasan dibuka. Bertebaran ide, dan gerakan, baik yang berbau Islam ekstrem, sekuler, dan liberal. Suatu hal yang paradoks terjadi pada gerakan Islam transnasional.
Satu sisi, gerakan ini menentang ruh reformasi, kebebebasan dan demokrasi. Bagi mereka, demokrasi adalah sebentuk kekufuran dan kebid’ahan dalam Islam. Namun di sisi lain, justeru mereka menikmati kebebasan. Suatu keberkahan yang mustahil mereka peroleh di mayoritas negara Timur Tengah.
Lebih dari itu, paradoks lain yang memicu friksi adalah statemen mereka yang memberi stigma negatif (bid’ah, sesat, dan kufur) terhadap ritual dan tradisi mayoritas muslim nusantara. Tidak ketinggalan, mereka juga mulai kembali mengotak-atik Pancasila dan NKRI.
Bisa diambil contoh Abu Bakar Ba’asyir dalam khutbah idul fithri tahun 2012 mengatakan, NKRI sejak merdeka sampai sekarang adalah negara kafir karena dasar negaranya ciptaan akal manusia dan hukum positifnya adalah hukum jahiliyah. Ba’asyir menegaskan, penguasanya adalah thaghut yang harus diingkari meski muslim yang sholat, puasa, zakat, dan haji. Demikian juga aktivis dan simpatisan Hizbut Tahrir dengan nyaring bersuara bahwa demokrasi adalah kufur, sistem negara selain khilafah adalah ditolak Islam. Tentu salah satu targetnya adalah NKRI.
Doktrin-doktrin ini pasti punya efek negatif. Rasa nasionalisme tidak ada, karena nasionalisme adalah haram (kitab Nizamul Islam). Demikian pula support pembangunan tidak muncul, karena bekerja di instansi hukum, maupun politik adalah haram mutlak . Akhirnya tidak mungkin mereka mau menjadi hakim, jaksa, apalagi kepala pemerintahan. Tidak ketinggalan, gerakan transnasional ini pasti mengalami benturan dengan masyarakat dan ormas Islam yang lain.
Suatu saat, gerakan Islam transnasional tersebut akan berbenturan hebat dengan negara Indonesia. Kalau di Indonesia terjadi gonjang ganjing politik, sangat terbuka peluang bahwa gerakan ini pada fase tertentu akan mengangkat senjata. Benih ini sudah terlihat dari gerakan Salafi/Wahabi radikal yang di berbagai tempat melakukan aksi-aksi kekerasan. Bahkan Hizbut Tahrir yang dalam metode dakwahnya anti kekerasan (kitab Manhaj), namun ketika Suriah gonjing ganjing, mereka bermetamorfosis, membentuk brigade bersenjata.
Mengindonesiakan Gerakan Islam Transnasional
Sudah seharusnya gerakan Islam transnasional merubah wajahnya menjadi Indonesia, istilah KH. Hasyim Muzadi harus diindonesiakan dahulu. Sehingga tidak sampai menabrak pilar NKRI dan pilar keragaman.
Dengan kata lain, semua kelompok boleh mengekspresikan pendapatnya. Tapi tidak boleh melintasi garis merah (red line), yakni otak-atik NKRI, dan obok-obok tradisi dan ritual muslim nusantara.

Penulis adalah Dosen Politik Islam IAIN Surabaya; tinggal di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas JombangDisertasinya tentang Hizbut Tahrir dan sudah dibukukan dengan judul Membongkar Proyek Khilafah.

WAWANCARA Dina Sulaeman dengan JURNALIS SYRIA
Dina Y. Sulaeman*
wawancara1


Atas jasa seorang teman, saya terhubung dengan seorang jurnalis senior Syria. Atas seizin sang jurnalis, perbincangan saya dengannya saya tuliskan di sini. Namun untuk menjaga keamanannya, identitasnya tidak bisa diungkap. Foto yang saya saya taruh di sini pun saya samarkan pada bagian wajahnya. Kita sebut saja namanya Mr. As-Souri. Sebenarnya, pertanyaan yang saya ajukan kepadanya hanyalah sekedar konfirmasi atas apa yang sudah saya ketahui selama ini. Namun perbincangan ini memiliki nilai penting karena –dalam penelitian ilmiah dengan metode kualitatif—perbincangan saya dengannya bisa disebut sebagai ‘data primer’.

Dina [D] : Di kota mana Anda tinggal?
As-Souri [S]: di kota *****
D: Ah ya.. saya dengar kota itu. Itu daerah asal seorang ulama yang gencar menggerakkan aksi pemberontakan melawan pemerintah. Namanya ******* Apa pendapat Anda tentang dia?
S: Anda mau jawaban yang sebenarnya?
D: Tentu saja.
S: Dia pria yang buruk, pernah ada skandal seks. Lalu dia pergi ke luar negeri dan sekarang tinggal di luar negeri.
D: Tapi saya lihat di internet, ada demo-demo warga yang mengelu-elukan namanya?
S: Ya, memang dia punya pendukung tapi tak banyak, mungkin 5-10%
D: Jadi, apa yang terjadi sebenarnya di Syria?
S: Baik, saya akan jelaskan dengan adil dan terus-terang. Usia saya sudah ** tahun. Sepanjang hidup saya, saya bahkan tidak tahu apa agama tetangga-tetangga saya. Saya tidak peduli apa mazhab orang yang duduk di sebelah saya. Begitulah kehidupan kami. Yang penting bagi kami adalah hati dan perilakunya. Syria adalah untuk semua orang, Kristen, Sunni, Syiah, Druze, Alawi, Yahudi…
D: Tapi ada kelompok pemberontak, Jabhah al-Nusrah yang mendeklarasikan khilafah.
S: Mereka bukan orang Syria. Pasukan mereka datang dari 40 negara asing. Mereka datang untuk membunuh rakyat Syria.
D: Kalau Assad tidak bermasalah, tentu tak ada penentangan rakyat?
S: Bashar Assad adalah presiden yang sangat cerdas. Segera setelah ada demonstrasi, dia mengundang mereka untuk duduk bersama, mendiskusikan apa keinginan mereka. Assad bahkan menyetujui dilakukannya perubahan UU sesuai permintaan para demonstran. Lalu, dilakukan referendum untuk meminta persetujuan rakyat atas UU baru itu. Dan kini kami sudah memiliki UU yang baru.Tapi mereka tidak berhenti. Inilah buktinya, mereka ingin Syria hancur, bukan ingin demokrasi atau kebebasan.
Buktinya, mereka membunuh dokter, insinyur, pilot-pilot yang sedang dalam perjalanan menuju bandara. Untuk apa? Apa ini diajarkan Islam? Mereka menculik orang-orang lalu meminta tebusan. Apa ini Islam?
Anda tahu, setiap pagi istri saya menangis sehabis sholat Subuh. Dia menangis sambil berdoa untuk Syria. Bagi kami Bashar tidak penting. Yang penting adalah Syria. Mereka sedang menghancurkan Syria. Syria benar-benar sendirian. Padahal selama ini Syria sangat mendukung nasionalisme Arab. Syria setia pada negara-negara Arab. Semua penduduk negara Arab bebas masuk ke Syria tanpa visa.
D: Sebagian berita menyebutkan adanya shabiha [milisi pro Assad] yang membantai rakyat sipil?
S: [menggeleng-geleng] tidak.. tidak.. mereka [pemberontak] yang membunuh rakyat sipil lalu melemparkan tuduhan bahwa tentara Assad yang melakukannya.
D: Sebagian orang menyebut pemberontakan di Syria adalah jihad. Bagaimana pendapat Anda?
S: Saya sudah bilang. Selama ** tahun usia saya, saya bahkan tak tahu apa agama tetangga saya. Kami hidup damai selama ini, apapun agamanya. Lalu tiba-tiba mereka datang dari luar negeri dan membunuh kami. Apa ini jihad? Rasulullah berkata [ia mengutip hadis] membunuh satu mukmin itu jauh lebih buruk daripada menghancurkan Ka’bah. Membunuh satu orang sama seperti membunuh satu umat. Mereka mengebom sekolah, universitas, apa ini jihad?
Anda tahu bagaimana dulu Rasulullah hidup? Nabi punya tetangga Yahudi yang tiap pagi menaruh kotoran di depan pintu rumahnya. Tapi Nabi diam saja, tak melakukan apapun terhadap Yahudi itu. Suatu pagi, Nabi mendapati, tak ada kotoran lagi di depan pintunya. Nabi segera mendatangi Yahudi itu dan bertanya, “Apa kau baik-baik saja?”. Lalu si Yahudi menjawab, “Ya, aku baik-baik saja, mengapa engkau menanyakan kabarku?” Nabi menjawab, “Biasanya kau menaruh kotoran di depan pintu rumahku, tapi pagi ini tidak. Aku khawatir engkau sakit.” Saat itu juga si Yahudi yang terkesan oleh kemuliaan akhlak Rasulullah, mengucapkan syahadat.
Ada ulama yang sangat terkenal di Syria, Syekh Al Buthy. Seumur hidupnya, dia tak pernah pegang senjata. Dia menulis 21 kitab yang sangat bagus tentang Islam. Tapi mereka membunuhnya. Apa ini jihad?
Tujuan mereka adalah menghancurkan Syria, demi Israel. Kami bukan negara kaya, tapi juga tidak miskin. Tidak seperti negara-negara Arab lain yang banyak utang kepada Barat, kami tidak punya utang. Syria sedang merintis pembangunan pipa gas dari Irak dan Iran untuk dialirkan lewat Syria ke Mediterrania. Kalau ini terwujud, Syria akan sangat kaya dan bertambah kuat. Israel sangat takut ini terjadi.
D: Lalu, mengapa ada muslim yang mau datang ke Syria untuk berperang?
S: Sebagian dari mereka kurang pendidikan sehingga tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Sebagian dari mereka miskin dan mau berperang karena ada imbalan uang dari Qatar dan Arab Saudi. Mereka juga diberi obat. Pernah seorang pemberontak ditangkap dalam keadaan berjoget-joget. Dia dikunci dalam sel. Keesokan paginya, dia ditemukan sedang meratap, “Mengapa aku di sini? Apa yang aku lakukan di sini?” Tentara Syria menemukan penyelundupan pil-pil halusinasi. Pil-pil itu banyak sekali masuk ke Syria dan dikonsumsi para pemberontak.
D: Ada sebagian aktivis muslim Indonesia yang menyerukan agar umat muslim Indonesia berjihad ke Syria. Apa pendapat Anda?
S: [menggeleng-gelengkan kepala, raut muka sedih] Saya sedih mendengarnya. Saya mencintai orang-orang Indonesia. Mengapa mereka ingin membunuh kami? Mereka bilang jihad di Syria akan membuat mereka masuk surga. Padahal ada banyak cara untuk masuk surga. Mengapa kami yang dibunuh? Mengapa tidak berjihad ke Palestina?
Pernah suatu kali ada pemberontak yang luka parah ditolong oleh dokter. Setelah sembuh, dia marah-marah kepada dokter itu. Katanya, “Mengapa kauselamatkan aku?! Kalau aku mati, sekarang aku pasti sedang makan malam bersama Rasulullah!”
[kami lalu berbicara tentang berbagai hal terkait kultur Syria, antara lain kebiasaan saling berbagi makanan di bulan Ramadhan. Mr Souri tiap hari bersama istrinya memasak makanan lalu dibagikan ke tetangga-apapun agama dan mazhabnya-dan sebaliknya, juga menerima pembagian makanan dari tetangga. Meja makan selalu penuh dengan makanan pemberian banyak orang. Di masjid, disediakan buka bersama gratis. Mr. Souri juga cerita bahwa di Syria, Kristen pun banyak mazhabnya dan masing-masing bebas punya gereja sendiri.]
S: Dalam beberapa hari mendatang tentara Syria akan menang. Perang ini sudah hampir mendekati akhir. Kota Al Qusayr yang menjadi pusat pemberontakan dan tempat masuknya suplai pasukan dan senjata dari luar negeri ke Syria sudah dikuasai tentara. [Dia menggerak-gerakkan tangannya melukiskan peta menunjukkan dimana posisi Al Qusayr dan dari arah mana saja tentara Syria mengepung pemberontak yang bercokol di sana, sambil menjelaskan bagaimana strategi tentara Syria dalam menaklukkan pemberontak]
D: [berpamitan]
S: Datanglah ke Syria. Tulislah buku tentang keindahan Syria. Syria adalah negeri yang indah. Kami adalah orang-orang yang riang. Setiap akhir pekan kami biasa membawa makanan lalu pergi ke alam terbuka dan menggelar tikar. Kami duduk-duduk berbincang-bincang, anak-anak berlarian dengan riang ke sana kemari.
D: dan sekarang…?
S: [menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut muka sedih]
***
alumnus Magister Hubungan Internasional Unpad, research associate di Global Future Institute. Wawancara ini dimuat di  The Global Review.(http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/05/24/wawancara-dina-sulaeman-dengan-jurnalis-syria/#more-1334)

TANGGAPAN Balik atas KRITIKAN wawancara dengan Jurnalis Syria
(sebenarnya awalnya tidak saya niatkan wawancara, tapi lebih untuk ngobrol-ngobrol) dengan jurnalis senior Syria, mengundang banyak tanggapan, mulai yang diungkapkan terbuka di FB atau melalui inbox dan email. Selain tanggapan positif, banyak juga tanggapan negatif yang mempertanyakan validitas narasumber (yang identitasnya saya tutupi atas permintaan sang jurnalis, karena alasan keamanan), ada juga yang melempar fitnah sektarian (bawa-bawa isu Sunni-Syiah), dan ada juga yang ‘baik hati’: menawarkan untuk mengenalkan saya pada aktivis atau jurnalis pro-pemberontak.
Wow, kebayang kalau saya wawancara sama orang tersebut, yang ada mungkin debat kali ya..? Soalnya untuk kasus Suriah, karena saya sudah lama menelitinya, kepala saya penuh dengan banyak data. Tidak mungkin saya akan diam saja kalau si narasumber berbicara sesuatu yang tidak valid. Misalnya, dia berbicara sesuatu yang menurut pengetahuan saya itu tidak benar, pasti akan saya kasih argumen bantahan; lalu dia akan membantah lagi, dan saya bantah lagi dengan menyodorkan bukti-bukti yang saya punya.. dan seterusnya.. (masih untung kalau gak dikafir-kafirin)… Eh.. jadinya bukan wawancara dong yaaa..?
Lagipula, ngapain saya repot-repot wawancara jurnalis pro-pemberontak? Tinggal buka saja CNN, Time, Telegraph, Fox News, New York Time, AlJazeera, Eramuslim, Hidayatullah, Arrahmah, Media Umat, dll dengan gampang akan ditemukan pemberitaan pro-pemberontak dari para jurnalis itu (unik sekali, baru kali ini media muslim bisa bahu-membahu dengan media Barat dalam membahas isu jihad).
Bukankah media internasional sudah menghegemoni opini publik dengan berita pro-pemberontak? Kenapa musti marah kalau ada yang berusaha memberikan berita penyeimbang (dan lucunya, sambil menuduh ‘tidak berimbang’)?
Dalam setiap konflik, umumnya akan ada dua atau lebih versi pemberitaan. Allah sudah mengaruniai kita akal dan nurani; pakai keduanya untuk meneliti setiap berita.
Ini saya kutip tulisan Russ Baker, jurnalis AS, yang banyak mengkritisi pemberitaan yang dilakukan media Barat yang tidak berimbang (melulu memberitakan versi pemberontak):
“Anda tidak perlu menjadi fans Assad untuk menemukan [fakta] bahwa adalah penting untuk mendengar pendapatnya. … Ini mengingatkan saya pada sebuah aturan yang kita pelajari di sekolah jurnalistik, namun kini sepertinya sudah diabaikan: untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, lakukan upaya maksimal untuk berbicara dengan kedua pihak.”
Coba baca kembali media-media Barat, yang meskipun banyak memelintir berita-berita soal Suriah (dari sudut pandang kubu antiperang tentunya; tapi kalau dari sudut pandang kubu pemberontak, pemberitaan media Barat itu malah sangat menguntungkan mereka). Mereka itu biasanya berterus-terang bahwa sumber mereka tidak bisa terverifikasi.
Misalnya, pemberitaan BBC soal foto jenazah pembantaian di Houla, meski sudah langsung menuduh bahwa Assad pelakunya; BBC menyebut: foto ini, yang tidak bisa diverifikasi secara independen, diyakini adalah jenazah anak-anak korban pembantaian Houla yang akan dimakamkan. Dan tak lama kemudian terbukti itu foto korban teroris di Irak (fotografernya sendiri yang buka mulut di FB). Atau, wawancara koran Telegraph pada seorang anak yang mengaku bernama Ali, meski sangat tendensius, tetap menulis ‘kesaksian Ali tidak bisa kami verifikasi’.  Ali diwawancarai melalui Skype, si wartawan Telegraph tidak kenal/bertemu langsung, dan Ali dihadirkan oleh aktivis oposisi. Dari sisi jurnalistik ini ada cacat. Anehnya, pemberitaan dari sumber-sumber seperti ini diterima begitu saja oleh dunia internasional (termasuk kaum muslim).
Lalu, bagaimana dengan media Islam yang pro pemberontak?
Apa sumber mereka terverifikasi? Apa Anda kenal siapa Abu ini.. Abu itu.. yang dikutip oleh media-media Islam itu (yang mengutip lagi entah dari media mana)? Atau, apa Anda kenal sama Al Julani, pemimpin Jabhah An-Nusrah? Bahkan anggota JN sendiri ternyata tidak kenal sama dia, dia selalu tampil dengan penutup wajah. Laporannya bisa dibaca di majalah Time dan anehnya, ini diposting ulang oleh Hizbut Tahrir Inggris dengan tanpa catatan (sanggahan atau komentar)..artinya isinya disetujui (diverifikasi oleh HT). Bisa baca di sini. : (terakhir kali diakses oleh saya tanggal 30 Mei 2013, 04:45, siapa tau nanti mereka hapus).
Dan seperti saya bilang di pengantar wawancara, identitas narasumber saya tutupi demi keamanannya. Teroris di Suriah sampai tega makan jantung mayat; ulama sunni di Aleppo, Sheikh Hassan Seifeddin dimutilasi dan kepalanya digantung di menara masjid;  Syekh Buthy dibom; kesalahan mereka hanya satu: menolak dukung pemberontak. Baru-baru ini, wartawati Syria tewas dibunuh saat bertugas di Al Qusayr.
Bisa saja sih, seperti biasa para simpatisan pemberontak Suriah di Indonesia akan menjawab: “Itu fitnaaah..itu Assad yang melakukan..!?”  Silahkan saja terus berpegang pada kalimat ini untuk menjawab setiap bukti yang menunjukkan kebrutalan para pemberontak Suriah.
Yang jelas, saya bertemu narasumber saya bukan di jalanan tapi lewat lembaga terhormat (anda pasti kaget kalau saya kasih tahu, tapi tentu tidak bakal saya kasih tahu karena saya sudah janji), identitasnya jelas dan terverifikasi. Dan saya juga mempertaruhkan kredibilitas saya sebagai analis politik di Global Future Institute. Sama sekali tidak bertentangan dengan kode etik jurnalistik bila identitasnya saya tutupi. Juga,  sama sekali tidak bertentangan dengan penulisan karya ilmiah. Coba deh baca-baca tesis atau disertasi orang-orang.. biasanya nama narasumber tidak dicantumkan; tapi jelas terverifikasi (karena sudah disetujui dosen; dosen sudah menganggap narasumber yang bersangkutan layak untuk dijadikan narasumber).

Praktik Pelacuran di Sinema Barat

Dari wanita penghibur full time, aktris, model, hingga wanita panggilan kelas atas yang memberi pelayanan seks pada pria-pria kaya di Cannes, dapat memperoleh penghasilan hingga 40.000 dolar semalam. Menurut pebisnis asal Lebanon, Elie Nahas – yang pada tahun 2007 ditangkap karena membuka bisnis "Selimut Hidup" alias prostitusi Cannes – mengaku penghasilan pekerja seks di saat Festival Film Cannes berlangsung benar-benar tinggi. Saat itu ia dapat mensuplai lebih dari 50 wanita cantik berkelas dari berbagai negara untuk ‘disuguhkan' kepada pria-pria Timur Tengah saat festival Cannes berlangsung.

Elie menjelaskan bahwa wanita panggilan kelas tinggi biasanya akan duduk di lobi hotel eksklusif Cannes dan menunggu para pria kaya turun ke bawah. Transaksi berlangsung dengan sangat mudah, hanya perlu menggunakan sinyal tangan maka si wanita akan langsung mengikuti si pria kaya. Namun uang dalam jumlah besar dapat lebih banyak diperoleh ketika si wanita dipanggil ke dalam kapal yacht, karena di sanalah banyak pria kaya tinggal untuk sementara saat festival berlangsung.

Elie Nahas baru-baru ini kepada majalah The Hollywood Reporter, mengaku menjalankan agen model, yang merekrut perempuan muda dari Amerika Selatan, Perancis, dan Eropa Timur. Ia memiliki kedekatan dengan anak Qadhafi, Mutassim Qadhafi, yang juga terlibat jaringan prostitusi papan atas di Perancis. Elie membangun jaringan prostitusi internasional yang menyuplai pekerja seks komersial kelas atas selama ajang Festival Film Cannes. Nahas bahkan pernah mengorganisasi pesta ulang tahun Mutassim pada tahun 2004 dengan biaya 1.100.000 euro. Pesta ini dihadiri oleh beberapa bintang Hollywood dan sekitar 20 model.

Para wanita yang diperkerjakan Nahas terutama direkrut selama Festival Film Cannes untuk melayani klien dari Timur Tengah, Arab Saudi, dan Kuwait. Para klien itu dikenal "murah hati" dan siap untuk membayar ribuan dolar untuk layanan yang diberikan. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Elie Nahas mengungkap semua rahasia kotor bagaimana model dan bahkan beberapa aktris Hollywood menjual diri kepada pria-pria kaya. Ia bahkan menyebut beberapa nama bintang terkenal seperti Brad Pitt, Angelina Jolie, dan Sharon Stone. Mereka semua menjadi anggota prostitusi yang ia dirikan.

Nahas – yang dipenjara selama 11 bulan setelah penangkapannya di Perancis dan kemudian dibebaskan karena kurangnya bukti – mengatakan, "Polisi Perancis tahu apa yang terjadi selama festival film, tapi mereka menutup mata. Mereka menangkap kami, sebab aku bekerja untuk Gadhafi." Nahas menyangkal dia menjalankan jaringan prostitusi tetapi mengakui ia mengatur para perempuan untuk datang ke Cannes selama festival. Tugas Nahas adalah untuk menjemput mereka di Bandara Internasional Nice, mengantar mereka ke pelabuhan di Cannes dan menempatkannya pada kapal kecil yang membawa mereka ke yacht Gadhafi, Che Guevara, dan kapal mewah lainnya.

Setiap tahun, wanita dari berbagai negara datang ke Cannes untuk menjual diri dan mereka memperoleh pendapatan yang tinggi. Kritikus film Amerika, Roger Ebert pada tahun 2010 mengatakan, "Para pelacur sangat menonjol di Cannes. Mereka orang-orang yang berpakaian rapi dan tidak merokok."

Pada tahun 2004, Nahas ketika mempersiapkan pesta ulang tahun Mutassim Gadhafi di Marrakesh, membayar penyanyi Spanyol, Enrique Iglesias sebesar 500.000 dolar untuk menghadiri pesta itu dan 50.000 dolar juga diberikan kepada artis Amerika Carmen Electra, dan Kevin Costner juga hadir di sana. Nahas menuturkan, "Mutassim Gadhafi pernah menyentuh Carmen. Bahkan, dia sedikit marah karena ia merasa tidak mendapat perhatian yang cukup dari Carmen." Ketika Nahas ditangkap, polisi Perancis menyita buku alamat yang berisi puluhan nama dan informasi kontak milik beberapa pangeran kaya dan penguasa di Timur Tengah.

Industri film Hollywood dengan memproduksi lebih dari 700 film per tahun menguasai sebagian besar sinema di seluruh dunia. Mereka dengan segala triknya mampu menyita perhatian para pemirsa dan meracuni mereka dengan perilaku-perilaku tak bermoral. Brandie Knight dalam bukunya Hollywood Under the Covers menulis, "Hollywood dari jauh, sebuah industri yang penuh kilauan, harta, dan popularitas, tapi ketika Anda mendekatinya, Anda akan menghadapi sebuah dunia yang penuh dengan kegelapan, skandal, dan hubungan-hubungan tak bermoral."

Sinema saat ini merupakan salah satu sarana terpenting seni dan industri untuk menyebarkan identitas,budaya dan ideologi. Media-media Amerika khususnya Hollywood, memiliki peran penting dalam meningkatkan budaya kekerasan di tengah masyarakat. Hollywood selalu berupaya mengajarkan dua unsur yaitu kekerasan dan ketakutan. Mayoritas tema yang menarik dari film Hollywood adalah aksi pembunuhan dan hubungan bebas. Terdapat banyak film Hollywood yang mempertontonkan kepada pemirsa aksi pembunuhan dan seksualitas.

Hollywood menjadikan perilaku amoral sebagai agenda utama mereka dan melancarkan serangan budaya ke berbagai negara dunia. Raksasa film ini gencar menyebarluaskan perilaku menyimpang dan berbahaya seperti, seks bebas, penggunaan narkotika, konsumsi alkohol, dan aksi bunuh diri. Hollywood telah dikenal luas sebagai pusat kebobrokan moral Barat. Meski adanya protes luas di tengah masyarakat, tapi para produser selalu berambisi untuk memperbanyak pendapatan dan menyuguhkan tontotan-tontotan yang tidak bermoral kepada pemirsa.

Para pemerhati masalah-masalah sosial di Barat menuntut pengawasan terhadap produk-produk Hollywood dan memperkenalkan wajah asli para bintang sinema itu kepada publik. Namun sayangnya, tuntutan itu tidak membuahkan hasil dan semakin hari kondisi di internal Hollywood semakin rusak. Kerusakan moral dan perilaku menyimpang di Hollywood bahkan mendorong kebanyakan wajah populer sinema di perusahaan itu untuk bereaksi. Seorang kritikus film Amerika, Roger Ebert mengatakan, "Setengah orang-orang di Hollywood tampaknya sedang menjalani pemulihan dari narkoba dan alkohol." Michael Kilian, penulis di Chicago Tribune, mengatakan, "Beberapa bintang Hollywood karena popularitas mereka secara terbuka menggunakan kokain."

Di mana pun kita menemukan penggunaan luas narkoba, kita biasanya juga akan menemukan prostitusi. Ini bukan rahasia bahwa ada banyak pelacur di Hollywood. Aktor Woody Harrelson mengakui, "Aku telah melihat begitu banyak orang tidur dengan orang yang mereka benci hanya untuk mencapai ambisi mereka." Banyak aktor dan aktris di Hollywood melacurkan diri untuk mendapatkan peran atau kedekatan dengan seseorang. Aktris Jenny McCarthy juga mengakui, "Los Angeles adalah tempat terburuk di dunia untuk memperoleh kenyamanan. Gadis-gadis yang pindah ke sana semakin melemah dan berubah menjadi kupu-kupu malam. Aku satu-satunya gadis dalam kelompok saya yang tidak tidur dengan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan."

Chris Hanley, produser lebih dari 20 film (American Psycho, The Virgin Suicides, dll), mengatakan, "Hampir setiap aktris terkemuka di semua film saya telah tidur dengan seorang direktur atau produser atau aktor utama untuk mendapatkan bagian yang melejitkan karirnya." Sementara itu, seorang penulis hiburan, Peter Keough menggambarkan Hollywood sebagai sebuah kota di mana semua orang akan menjual tubuh dan jiwa mereka untuk ketenaran dan keberuntungan, dan semua --- terutama perempuan --- dianggap komoditas.

Mengingat apa yang terjadi di Hollywood, maka sungguh mengherankan bahwa eksploitasi seksual menjadi lebih dan lebih dapat diterima di dunia? Lalu mengapa kita heran dengan peningkatan epidemi penyakit menular seksual? Tingkat perceraian yang tinggi? Tingkat bunuh diri remaja yang terus melonjak? Apakah mengherankan jika kita memiliki angka kelahiran di luar nikah tinggi? Begitu banyak gadis-gadis muda menjadi ibu? Sebagai masyarakat, kita tidak hanya perlu belajar bagaimana untuk secara logis mempertahankan nilai-nilai moral, tapi setelah kita belajar, kita juga harus mengajarkan anak-anak kita. (IRIB Indonesia)

Rakyat Iran Tenggelam dalam Lautan Kebahagiaan

Tiga hari setelah epik politik dalam pemilu presiden Iran dan kemenangan Doktor Hassan Rohani sebagai presiden baru di negara itu dengan meraih mayoritas suara, rakyat negara itu terus tenggelam dalam lautan kebahagiaan. Kebahagiaan tersebut bertambah ketika tim nasional sepak bola Iran (Tim Melli) lolos ke Piala Dunia 2014 Brazil.

Jutaan warga Iran pada Selasa (18/6) sore dengan suasana harmonis dan persatuan pasca pemilu, menyaksikan pertandingan sepak bola antara Iran dan Korea Selatan. Di hadapan ratusan ribu pendukungnya di stadion kota Ulsan, timnas Korsel terpaksa mengakui keunggulan timnas Iran setelah Reza Quchannejad berhasil membobol gawang  Korsel pada menit ke-60.

Timnas Korea Selatan pada babak pertama mendominasi lapangan namun gagal mencetak gol karena penampilan Tim Melli yang sangat rapi di baris pertahanan. Meski demikian, para penyerang timnas Korsel sempat beberapa kali mengancam gawang Tim Melli.

Namun pada babak kedua, Tim Melli mampu tampil lebih meyakinkan dan mengontrol emosi dan kecemasan mereka pada babak pertama. Barisan pertahanan Tim Melli terjaga rapat hingga akhirnya satu kesalahan dari pemain belakang Korsel dimanfaatkan dengan baik oleh Quchannejad dan mencetak satu-satunya gol hingga pertandingan berakhir. Dengan demikian, Tim Melli saat ini memiliki poin tertinggi dan lolos menuju Piala Dunia 2014 Brazil.

Ini adalah keempat kalinya Tim Melli Iran lolos ke perlombaan Piala Dunia setelah perlombaan Piala Dunia 1978 Argentina, 1998 Perancis dan 2006 Jerman. Kemenangan tersebut telah mengantarkan rakyat Iran ke dalam gelombang kebahagiaan. Mereka turun ke jalan-jalan untuk kedua kalinya selama sepekan ini untuk mengungkapkan kebahagiaan itu. Banyak dari mereka membagikan kue dan meniup terompet serta membunyikan klakson mobil.

Media-media regional dan internasional selama sepekan terakhir terfokus pada transformasi di Iran. Gelombang propaganda anti-Iran selama beberapa tahun terakhir untuk menampilkan wajah murung bangsa Iran telah gagal. Rasa putus asa  warga Iran yang digambarkan oleh berbagai media Barat tidak terbukti dan justru sebaliknya apa yang terjadi di negara itu telah mengejutkan masyarakat dunia.

Selama  beberapa tahun terakhir, bangsa dan pemerintahan Republik Islam Iran menjadi sasaran propaganda sebagian media negara-negara regional dan Barat untuk memperluas Iranphobia. Bersamaan dengan hal itu, Barat menerapkan berbagai sanksi ilegal untuk memaksa perubahan kebijakan politik Iran dan melemahkan tekad bangsa negara itu. Mereka berharap sanksi akan menyulitkan kehidupan rakyat Iran sehingga kepercayaan mereka terhadap Republik Islam melemah dan enggan untuk memberikan suara mereka dalam pemilu presiden. Selain itu, Barat dengan berbagai cara juga berupaya mengucilkan Iran dari kancah internasional.

Namun propaganda dan tekanan tersebut telah dijawab tegas oleh bangsa Iran dengan datang ke kotak-kotak suara sehingga terciptalah epik politik besar. Musuh-musuh Iran tidak mengira jika partisipasi rakyat negara itu dalam pemilu sangat besar. Mereka seakan-akan tidak percaya dengan fakta tersebut mengingat Iran telah ditekan dari segala sisi dan bahkan diancam, namun kenyataannya semua langkah tersebut tidak dapat mempengarui tekad bangsa independen Iran. Kini loyalitas rakyat Iran kepada Republik Islam dan kemajuan besar yang terus menerus dicapai telah membuat musuh menjadi putus asa. (IRIB Indonesia/RA/NA) 

Lolos Keputaran Final Piala Dunia, Rahbar Berterimakasih

Kemenangan Timnas sepakbola Iran telah menggembirakan rakyat Iran khususnya para pecinta olahraga. Saya mengucapkan terimakasih atas kegembiraan yang telah diberikan tim ini. Terimakasih atas kerja kerasnya.

 

 Lolos Keputaran Final Piala Dunia, Rahbar Berterimakasih
Menurut Kantor Berita ABNA, gol yang dicetak Reza Ghoochannejad pada menit ke-60 ke dalam gawang Korea Selatan, telah cukup untuk memastikan Timnas Iran untuk melaju dalam putara final Piala Dunia 2014 di Brasil. Iran dan Korea Selatan dipastikan lolos ke putaran final Piala Dunia 2014 seusai melakoni laga lanjutan kualifikasi Grup A Piala Dunia Zona Asia di Munsu Football Stadium, Selasa (18/6/2013).
Berkat raihan tiga angka tersebut, Iran finis di puncak klasemen akhir Grup A dengan poin 16, unggul dua angka dari Korea Selatan di posisi kedua. Korea Selatan memastikan satu tempat di putaran final karena unggul selisih gol dari Uzbekistan yang pada saat bersamaan menang 5-1 atas Qatar.
Dengan lolosnya Iran dan Korea Selatan, kini sudah ada lima tim yang memastikan tempat di putaran final Piala Dunia. Sebelumnya, selain tuan rumah Brasil, dua tim dari zona Asia, yakni Jepang dan Australia sudah lebih dulu lolos ke putaran final.
Atas keberhasilan Timnas Iran melaju keputaran final Piala Dunia, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei mengucapkan selamat secara tertulis. Berikut teks lengkap ucapan terimakasih tersebut.
Bismihi Ta'ala
Kemenangan Timnas sepakbola Iran telah menggembirakan rakyat Iran khususnya para pecinta olahraga. Saya mengucapkan terimakasih atas kegembiraan yang telah diberikan tim ini. Terimakasih atas kerja kerasnya.
Sayyid Ali Khamenei
28 Khurdad 1392 HS
DR. Hassan Rohani, Presiden Republik Islam Iran ke 11

Sukses melangsungkan proses pemilihan Presiden yang berjalan lancar dan tanpa kendala, rakyat Iran akhirnya memiliki presiden yang baru. DR. Hassan Rohani atas pengumuman resmi dari Kementerian Dalam Negeri Republik Islam Iran ditetapkan sebagai Presiden Republik Islam Iran yang ke-11 menggantikan DR. Ahmadi Nejad yang akan mengakhiri masa jabatannya. 

 DR. Hassan Rohani, Presiden Republik Islam Iran ke 11
Menurut Kantor Berita ABNA, Penghitungan suara pemilihan presiden Republik Islam Iran telah usai. Kementerian Dalam Negeri Iran Sabtu (15/6) pukul 20.20 waktu Tehran menyatakan telah menghitung 36.704.156 suara. Jumlah suara yang sah 35.458.747.
Perolehan suara masing-masing kandidat sebagai berikut:
Hassan Rohani, 18.613.329 suara.
Mohammad-Baqer Qalibaf, 6.077.292 suara.
Saeed Jalili, 4.168.946 suara.
Mohsen Rezaei, 3.884.412 suara.
Ali-Akbar Velayati, 2.268.753 suara.
Sayid Mohammad Gharazim 446.015 suara.
Sesuai dengan perolehan suara itu, Kementerian Dalam Negeri Republik Islam Iran mengumumkan Hassan Rohani sebagai Presiden Republik Islam Iran yang baru menggantikan Ahmadi Nejad yang akan mengakhiri masa jabatannya. Keunggulan lebih dari 50 persen suara membuat pemilihan presiden berlangsung hanya dengan satu putaran.
Segenap pengurus dan staff redaksi Kantor Berita ABNA mengucapkan selamat atas terpilihnya Hujjatul Islam wa Muslimin DR. Hassan Rohani sebagai Presiden Republik Islam Iran yang ke 11 dan berharap semoga agenda-agenda dan program kerjanya dalam rangka pengabdian terhadap Islam dan rakyat Iran bisa terlaksana dan mampu melewati berbagai kesulitan.  

Buntut Kebijakan Despotik Mursi (MESIR)

Reaksi pertama dari penunjukan sejumlah gubernur baru oleh Presiden Mesir, Muhammad Mursi  berujung pada bentrokan antara kubu pro dan anti pemerintah. Kota Faiyum hari Selasa (18/6) untuk selama dua hari berturut-turut menjadi ajang bentrokan antara kubu pro dan anti Mursi.

Bentrokan ini terjadi di depan kantor gubernur Faiyum dan mengakibatkan sejumlah orang luka-luka. Hesham Zazou, Menteri Pariwisata Mesir mengundurkan diri dari jabatannya memprotes dipilihnya seorang ekstrimis untuk menduduki kursi gubernur wilayah Luxor. Provinsi Luxor memiliki banyak peninggalan sejarah era Firaun.

Sejumlah saksi mata mengatakan, puluhan orang terluka dalam bentrokan antara pendukung kelompok Ikhwanul Muslimin dan kelompok aktivis penentang gubernur baru. Bentrokan terjadi di kota Luxor, El Gharbia dan El Menoufia. Dalam bentrokan ini, sejumlah orang terluka akibat terkena peluru plastik dan senjata tajam, kantor Ikhwanul Muslimin di kota Tanta juga dibakar massa.

Sementara itu, Front Penyelamat Nasional menegaskan akan menyeret kelompok Ikhwanul Muslimin Mesir ke dalam bentrokan dan kekerasan yang lebih besar.
Dalam statemen resmi Front Penyelamat Nasional dikatakan, penentuan tujuh gubernur dari anggota senior Ikhwanul Muslimin menunjukkan tujuan kelompok ini yang berambisi mendominasi lembaga-lembaga negara.

Ditambahkannya, "Ikhwanul Muslimin menentukan posisi gubernur untuk petinggi kelompok itu di beberapa wilayah yang warganya menentang kepemimpinan Ikhwanul Muslimin. Langkah ini semakin mendorong rakyat Mesir untuk turun ke jalan pada tanggal 30 Juni dan menuntut dilakukannya pemilu dini."

Selain warga biasa, para aktivis politik dan lembaga swadaya masyarakat juga turut andil dalam aksi menentang Mursi. Demonstran menuding Presiden Mursi dengan keputusannya ini berusaha menunjukkan kekuasaan serta kediktatorannya.

Keputusan Mursi dinilai aneh oleh penentangnya karena separuh dari pejabat baru menggantikan 17 gubernur yang diberhentikan adalah dari pejabat senior Ikhwanul Muslimin. Tak pelak hal ini langsung membangkitkan gelombang anti Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kondisi ini juga menjadi kesempatan bagi para penentang Mursi menyuarakan protesnya dengan menuding sang presiden berusaha melanggengkan kekuasaan.

Dalam hal ini mungkin yang patut dicermati adalah statemen Mohammad Elbaradei, ketua Partai al-Dostour yang menyebut Mursi sebagai Firaun baru Mesir. Sikap Elbaradei ini langsung berpengaruh pada kondisi tak menentu Mesir dan Front Penyelamat Nasional, kubu oposisi terbesar di negara ini pun semakin aktif mendukung sikap Elbaradei.

Dari berbagai bukti yang ada menunjukkan bahwa Mesir tengah terseret ke dalam kekacauan. Bahkan sejumlah langkah Mursi untuk melakukan perombakan di berbagai instansi pemerintah disikapi secara ragu-ragu oleh banyak kalangan. Untuk saat ini, kondisi tersebut merupakan kendala serius bagi pemerintah Kairo.

Mesir saat ini berada di tengah-tengah kubu dan partai yang tidak memiliki pandangan positif terhadap kedaulatan pemerintah dan bahkan terhadap kubu yang tergabung dalam pemerintahan Mursi. Kelompok yang tergabung dalam kubu oposisi Mesir ini selama beberapa bulan terakhir telah membuat pemilu parlemen yang diprediksikan digelar akhir tahun ini menjadi semakin kabur.

Di sisi lain, berlanjutnya aksi demo anti pemerintah dari sisi ekonomi dan keamanan juga menambah beban Kairo dan secara langsung perbengaruh pada kinerja pemerintah dan lembaga resmi negara ini. Bisa dikatakan bahwa aktivitas ekonomi di Mesir saat ini mengalami penurunan. Resesi ekonomi ini jika tidak ditanggapi secara serius akan memperparah kerumitan yang saat ini tengah berlangsung di Kairo. (IRIB Indonesia/MF/NA)

0 comments to "TENTANG SUBSIDI BBM LAGI....!!!!!, TURKI LAGI, SYRIA LAGI, INDONESIA (SUNNI) & IRAN (SYI"AH) LAGI....dan BARAT LAGI..!!!!????!!!!!!"

Leave a comment