Home , , , , , , , , , , , , , , � Senjata NUKLIR tidak mendatangkan kekuatan. Tapi bangsa yang mengandalkan bakat dan potensi insani dan alamnya beserta kekuatan ILLAHI bisa meruntuhkan kekuatan yang memiliki senjata NUKLIR, hingga Pemilu Sandiwara di Yaman serta Ulama Saudi Fatwakan WAJIB Hukumnya Membunuh Presiden Suriah

Senjata NUKLIR tidak mendatangkan kekuatan. Tapi bangsa yang mengandalkan bakat dan potensi insani dan alamnya beserta kekuatan ILLAHI bisa meruntuhkan kekuatan yang memiliki senjata NUKLIR, hingga Pemilu Sandiwara di Yaman serta Ulama Saudi Fatwakan WAJIB Hukumnya Membunuh Presiden Suriah


Ulama Saudi Fatwakan Wajib Hukumnya Membunuh Presiden Suriah

Bukan hanya raja Saudi yang geram dengan hasil referendum rakyat Suriah yang tidak sesuai dengan harapan mereka, namun termasuk juga ulama-ulama Saudi yang kemudian mengeluarkan fatwa Basyar Assad yang saat ini resmi menjabat sebagai presiden Suriah halal darahnya untuk ditumpahkan.


Ulama Saudi Fatwakan Wajib Hukumnya Membunuh Presiden SuriahMenurut Kantor Berita ABNA, Syaikh 'Aidh Al Qarni salah seorang ulama terkemuka Arab Saudi menyikapi kekacauan yang terjadi di Suriah dengan mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. Memanfaatkan statusnya sebagai ulama, ia mengeluarkan fatwa halal darahnya Basyar Assad Presiden Suriah untuk ditumpahkan, dan hukum untuk membunuhnya adalah wajib, lebih wajib dari membunuh seorang Zionis. 

Dalam wawancaranya dengan stasiun TV Al Jazeerah, ulama yang terkenal di Indonesia lewat karyanya 'La Tahzan' tersebut berharap kepada semua warga Suriah untuk menjalankan fatwanya tersebut. 

Fatwa yang dikeluarkan ulama Saudi tersebut hanya berselang beberapa hari dari diumumkannya hasil referendum rakyat Suriah yang mayoritas suara menginginkan undang-undang baru dan menegaskan masa jabatan kepresidenan Basyar Assad masih berlangsung sampai dua tahun kedepan. Karenanya sangat tidak relevan adanya fatwa pembunuhan Presiden bagi sebuah Negara yang berdaulat dan mendapat dukungan mayoritas warganya. Apalagi Suriah lah negara Timur Tengah yang paling banyak menampung pengungsi Palestina dan paling getol  bermusuhan dengan Zionis Israel. Lalu, ulama ini berpihak kepada Teroris Suriah yang Pro Zionis Israel atau dengan Palestina?????

Habis Membacakan Syairnya, Seniman Syiah Saudi Dijebloskan ke Penjara

Pasukan keamanan Arab Saudi menangkap Habib Al Ma'atiq salah seorang penyair dan pelukis yang bermazhab Syiah dan menjebloskan ke penjara tanpa prosedur hukum yang berlaku dan sama sekali tidak memberikan penjelasan kepada pihak keluarga alasan penangkapan dan pemenjaraan.

Habis Membacakan Syairnya, Seniman Syiah Saudi Dijebloskan ke PenjaraMenurut Kantor Berita ABNA, pasukan keamanan Arab Saudi menangkap Habib Al Ma'atiq salah seorang penyair dan pelukis yang bermazhab Syiah dan menjebloskan ke penjara tanpa prosedur hukum yang berlaku dan sama sekali tidak memberikan penjelasan kepada pihak keluarga alasan penangkapan dan pemenjaraan. 

Habibal Al Ma'atiq adalah seorang seniman terpopuler di Arab Saudi dan telah berkali-kali melakukan pameran lukisan dan mendapat sambutan yang luar biasa dari banyak penggemarnya. Selain dikenal sebagai pelukis, seniman tersebut juga dikenal sebagai penyair. Syair-syair ciptaannya mendapat simpatik dari banyak warga bukan hanya dari dalam Saudi namun juga dari berbagai Negara, bahkan telah mengantongi gelar penyair Internasional dan banyak berperan serta dalam festival-festival syair Internasional. 
Dugaan berat menyebutkan penangkapan tersebut disebabkan pembacaan syair Habib Al Ma'atiq dalam sebuah acara yang disiarkan oleh stasiun TV setempat beberapa hari sebelumnya. 

Serangan Zionis di Masjid Al-Aqsa Merenggut Dua Nyawa Warga Sipil

Serangan bersenjata tentara Israel tersebut merenggut dua nyawa pemuda Palestina dan mengakibatkan puluhan lainnya luka-luka. Salah seorang anggota pejabat sayap politik Hamas mengucapkan belasungkawa atas tragedi tersebut sekaligus mengutuk pemerintahan Zionis Israel atas kekejamannya dan bungkamnya raja-raja Arab atas aksi militer Israel tersebut. 

Serangan Zionis di Masjid Al-Aqsa Merenggut Dua Nyawa Warga SipilMenurut Kantor Berita ABNA, dalam serangan terbaru Ahad (26/2) rezim Zionis di Masjid Al-Aqsa merenggut nyawa 2 orang pemuda Palestina dan menciderai puluhan warga sipil lainnya. Ratusan warga sipil Palestina saat kejadian sedang berkumpul di Masjid Al-Aqsa dalam sebuah peringatan duka mengenang tragedi pembantaian rakyat Palestina oleh militer Zionis Israel di Haram Ibrahimi. 

Serangan bersenjata tentara Israel tersebut merenggut dua nyawa pemuda Palestina dan mengakibatkan puluhan lainnya luka-laku. Pihak rumah sakit Ramallah mensinyalir jumlah korban jiwa akan bertambah mengingat luka parah yang diderita beberapa korban yang sedang dalam perawatan medis akibat tertembak di bagian kepala dan dada. Media setempat mengabarkan jumlah korban yang luka-luka mencapai 30 orang.

Di Khan Yunus, Gaza ribuan rakyat Palestina menyambut seruan Hamas untuk mengadakan demonstrasi setelah shalat Jum'at pekan ini. Salah seorang anggota pejabat sayap politik Hamas mengucapkan belasungkawa atas tragedi tersebut sekaligus mengutuk pemerintahan Zionis Israel atas kekejamannya dan bungkamnya raja-raja Arab atas aksi militer Israel tersebut. 

Rahbar: Senjata Nuklir Tidak Membuat Satu Negara Lebih Kuat

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, Republik Islam Iran ingin membuktikan kepada dunia bahwa memiliki senjata nuklir tidak akan mendatangkan kekuatan, tapi justeru kekuatan yang mengandalkan senjata nuklir bisa dilumpuhkan dan itulah yang akan dilakukan oleh bangsa Iran.

Rahbar: Senjata Nuklir Tidak Membuat Satu Negara Lebih KuatMenurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Rabu pagi dalam pertemuan dengan Kepala dan para pejabat Badan Energi Atom serta sejumlah ahli nuklir Iran menyebut keberhasilan di bidang sains dan teknologi nuklir dalam beberapa tahun terakhir sebagai keberhasilan yang menumbuhkan rasa bangga dan dan mengangkat martabat negara di mata bangsa-bangsa lain di kawasan dan dunia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa meski dihimpit berbagai tekanan, satu bangsa yang resisten dan gigih akan mampu meraih kebebasan dan meruntuhkan monopoli sains oleh kekuatan arogansi.

Ayatollah al-Udzma Khamenei, bangsa Iran tak pernah dan tak akan pernah berpikir membuat senjata nuklir. Bangsa ini akan membuktikan kepada dunia bahwa senjata nuklir tidak mendatangkan kekuatan. Tapi bangsa yang mengandalkan bakat dan potensi insani dan alamnya bisa meruntuhkan kekuatan yang memiliki senjata nuklir.

Beliau menyebut sumber daya manusia yang handal, cerdas, berwawasan dan penuh semangat di negara ini sebagai karunia besar ilahi, seraya menandasakan, meski keberhasilan para ilmuan muda Iran di bidang teknologi nuklir punya banyak dimensi namun dari semua itu yang paling menonjol adalah rasa bangga dan kehormatan yang didapat bangsa Iran berkat keberhasilan ini. Rasa bangga dan kehormatan ini menurut beliau didapatkan berkat revolusi Islam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung tentang monopoli sains dan teknologi oleh segelintir negara dan mengatakan, "Sejumlah negara secara tak sah dan dengan cara memonopoli sains menguasai dunia dan menyebut diri sebagai masyarakat global. Negara-negara itu mengkhawatirkan keberhasilan bangsa-bangsa lain dalam meruntuhkan monopoli ilmu. Sebagian isu yang diangkat oleh mereka terhadap bangsa Iran berkaitan dengan masalah ini."

Rahbar menyebut penggunaan ilmu untuk melakukan tindakan arogansi sebagai kejahatan kemanusiaan terbesar. Beliau mengatakan, "Jika bangsa-bangsa dunia berhasil mencapai independensi di bidang nuklir, aerospace, teknologi, sains, dan industri tidak akan ada lagi tempat bagi kaum arogan di dunia."

Mengenai isu nuklir, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebutnya sebagai upaya musuh untuk menghentikan gerak laju Iran di bidang sains dan teknologi. Sebab, mereka menyadari benar bahwa dari sisi pemikiran, ideologi dan fikih Republik Islam Iran menilai kepemilikan senjata nuklir sebagai dosa besar. Iran menganggap menyimpan senjata nuklir hanya perbuatan yang sia-sia, merugikan dan sangat berbahaya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, Republik Islam Iran ingin membuktikan kepada dunia bahwa memiliki senjata nuklir tidak akan mendatangkan kekuatan, tapi justeru kekuatan yang mengandalkan senjata nuklir bisa dilumpuhkan dan itulah yang akan dilakukan oleh bangsa Iran.

Sanksi, intimidasi, ancaman dan teror, menurut beliau, tak akan membuahkan hasil apapun, dan bangsa Iran akan melanjutkan langkahnya ke arah kemajuan ilmu. Rahbar menambahkan, semua intimidasi dan sanksi ini menunjukkan kelemahan kubu arogansi menghadapi bangsa Iran yang semakin kuat. Sebab dari kemarahan musuh, bangsa ini telah menyadari bahwa langkahnya benar.

Beliau menyebut isu nuklir yang diangkat oleh Barat sebagai alasan yang dibuat-buat. "Sejak kemenangan revolusi Islam, bangsa Iran sudah dikenai sanksi, padahal isu nuklir baru mencuat ke permukaan dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, masalah mereka yang sebenarnya adalah bangsa yang telah memutuskan untuk mengambil keputusan secara independen, menolak ditindas dan membongkar kejahatan kaum durjana. Bangsa ini menyampaikan pesan kepada bangsa-bangsa lain untuk melakukan hal yang sama dan akan melakukan hal-hal yang lebih," kata beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, ketika satu bangsa sudah mengambil keputusan, bertawakkal kepada pertolongan Allah dan mengandalkan potensi diri, maka tak ada yang bisa menghalangi langkahnya.

Masalah nuklir, menurut beliau, bukan hanya permasalahan teknologi dan penggunaannya di sejumlah bidang di satu negara, tapi masalah gerakan kaum muda, para ilmuan dan bangsa yang telah membulatkan tekad. Mempertahankan resistensi dan semangat satu bangsa adalah hal yang sangat penting.

Di awal pertemuan, Kepala Badan Energi Atom Iran, Dr Abbasi membacakan laporan tentang perkembangan dan kemajuan terkini yang dicapai para ilmuan di bidang nuklir.





Schwartz: Tinggal Tunggu Instruksi, Militer AS Siap Serang Iran !



Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat, Norton Schwartz mengatakan militer AS siap menyerang Iran dan menghancurkan program energi nuklir negara itu.

Ketika ditanya tentang bom Massive Ordnance Penetrator (MOP) berkekuatan 30.000 pon, Schwartz mengatakan, "Kami memiliki kemampuan operasional, dan Anda tidak akan berada di sana ketika kami menggunakannya,"  Namun, ia menolak berkomentar mengenai kemampuan bom destruktif itu dalam menjangkau fasilitas nuklir bawah tanah Iran.

Sementara itu, Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Zbigniew Brzezinksi memperingatkan Washington supaya tidak menyerang Iran, dan mencegah Israel melancarkan serangan militer terhadap negara itu.

AS dan Israel meningkatkan retorika perang anti-Iran selama beberapa minggu terakhir untuk menempatkan lebih banyak tekanan terhadap Tehran agar menghentikan program energi nuklir damainya.

Ancaman perang mengemuka setelah Washington dan Tel Aviv menempuh berbagai cara termasuk teror terhadap ilmuwan Iran dan embargo ekonomi yang kandas.

AS dan Israel berulang kali mengancam Tehran dengan opsi serangan militer dengan dalih program nuklir Iran mungkin mengarah pada militer rahasia.  

Klaim tidak berdasar tersebut dibantah keras oleh Tehran. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak pernah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa program nuklir sipil Iran dialihkan ke arah produksi senjata nuklir. (IRIB Indonesia/PH)





Hizbullah: Invasi Militer ke Iran akan Membakar Seluruh Timur Tengah


Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem memperingatkan bahwa serangan militer ke Iran akan membakar seluruh Timur Tengah.

"Amerika tahu bahwa perang terhadap Iran akan membakar seluruh kawasan, tanpa mengenal batas," kata Qassem dalam wawancara dengan Reuters, Rabu (29/2).

"Israel bisa memulai perang ... tetapi tidak tahu skala konsekuensinya, dan tidak mampu mengendalikan perang tersebut," tegasnya.

Para pejabat Israel baru-baru ini mengintensifkan retorika perang mengancam Iran dengan serangan militer. Setelah gelombang sanksi bertubi-tubi yang dilancarkan AS dan sekutunya terhadap Iran tidak mampu memaksa Tehran menghentikan program nuklir sipilnya.

Menyinggung perselisihan mendalam antara pejabat Israel dan Amerika tentang serangan terhadap Iran, Wakil Sekjen Hizbullah mengatakan, "Israel tidak memiliki kemampuan dan keberanian untuk berperang sendirian menghadapi Iran, sementara Amerika masih mempertimbangkan bahaya perang dan dekatnya pemilu presiden mendatang. "

Dia menambahkan bahwa Washington percaya konflik dengan Iran menyebabkan pasukan AS dan sekutunya di wilayah ini menghadapi risiko, dan akan memperdalam krisis ekonomi global dengan naiknya harga minyak mentah di pasar dunia.

Ketika ditanya apakah Hizbullah akan menyerang Israel sebagai balasan atas setiap serangan terhadap Republik Islam Iran, Sheikh Qassem mengatakan Iran bisa mempertahankan diri, tetapi serangan itu akan membakar seluruh kawasan.

"Hizbullah memiliki kebijakan defensif terhadap Israel, tapi selalu siaga dan tidak akan berhenti mempersiapkan diri karena sejak pendiriannya Israel selalu bersiap-siap untuk menyerang,"pungkasnya.(IRIB Indonesia/PH)





Bendera Merah Huseini Berkibar di Beirut



Bersamaan dengan dimulainya pekan kebudayaan Imam Husein as di Lebanon, dikibarkan bendera merah huseini yang disaksikan ribuan masyarakat dan pejabat di Beirut.

Fars News (29/2) melaporkan, hal itu dikonfirmasikan oleh Saaduddin al-Banna' Direktur Kantor Ziarah Imam Husein di Lebanon.

Dikatakannya, bendera merah hoseini itu direlokasi ke kota Beiru akhir bulan lalu dan dipasang di kubah Syarif di kota Beirut.

Acara pengibaran bendera itu dihadiri oleh para pejabat Lebanon, tokoh agama, pejabat lembaga-lembaga budaya, para direktur televisi, dan masyarakat dari berbagai wilayah Lebanon.

Al-Banna' menegaskan bahwa pada acara pengibaran bendera tersebut jalan-jalan utama di Beirut ditutup. Dikatakannya, bendera merah di tempat ziarah Imam Husein as di Beirut itu dikibarkan agar masyarakat dapat bertabarruk. (IRIB Indonesia/MZ)





Iran dan Islam Menghadapi Kekuatan Penuh Imperialisme dan Kekufuran



Ayatullah Nouri Hamedani menyatakan, "Sekarang kekuatan penuh imperialisme dan kekufuran berhadap-hadapan dengan Iran dan Islam, oleh karena itu masyarakat harus dengan serius dan penuh keberanian menghadapi kaum imperialis.

Menurut Ayatullah Hamedani, di masa lalu, masyarakat hanya melaksanakan tugas-tugas individunya akan tetapi tugas sosial dan penting yang menentukan nasib mereka, tidak diperhatikan.

"Revolusi Islam merupakan sebuah fenomena yang berhadapan dengan kaum aidaya dan kita harus mengetahui bahwa kita semua adalah para pewaris ratusan ribu syuhada yang berjuang di jalan tersebut," tegas Ayatullah Hamedani.

Menurutnya, posisi sensitif Iran di masa sekarang tidak dapat dibandingkan dengan masa lalu dan musuh Republik Islam tidak sebanyak seperti saat ini.

Dijelaskan beliau bahwa tekanan Barat terhadap Suriah dikarenakan hubungan negara itu dengan Iran. "Uni Eropa, Amerika Serikat, dan negara regional seperti Arab Saudi, mereka mengintervensi urusan Suriah karena hubugannya dengan Iran dan perlawanannya terhadap Rezim Zionis Israel."

Menyinggung kebungkaman Barat terhadap aksi pembantaian warga sipil di Bahrain, Ayatullah Hamedani mengatakan, "Sangat disayangkan sekali kaum imperialis dunia dan sekutunya di kawasan telah menutup mata terhadap pembantaian warga tak berdosa Bahrain, Palestina, dan Afghanistan, serta memfokuskan seluruh perhatian mereka terhadap Suriah." (IRIB Indonesia/MZ)







AS Pelanggar Hak Asasi Manusia, Penjara Guantanamo



Dalam setengah abad terakhir, pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan berbagai alasan melanggar aturan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) di berbagai belahan dunia. Dulu di era perang dingin, aksi sewenang-wenang itu dilakukan dengan alasan bahaya komunisme. Setiap kali merasakan ancaman di negara dunia ketiga, AS tak segan memberi lampu hijau kepada rezim-rezim diktator untuk melakukan kejahatan paling keji dengan alasan menumpas komunisme. Di Iran, AS menggelindingkan isu bahwa gerakan nasionalisasi minyak membuka jalan bagi berkuasanya orang-orang komunis. Di Indonesia komunisme dijadikan isu yang berujung pada pembunuhan lebih dari setengah juta orang. Di Afrika dan Amerika Latin, isu yang sama mewarnai terjadinya puluhan kudeta berdarah. Yang menarik, meski demikian para petinggi AS tetap duduk di satu meja dengan para tokoh komunis untuk membagi kekuasaan atas dunia.

Runtuhnya Blok Timur membuat AS mengubah kebijakannya terkait HAM. Kali ini AS menciptakan musuh baru yaitu kelompok Islam radikal dan kelompok teroris seperti al-Qaeda dan Taliban. Dengan adanya kelompok-kelompok yang kehadirannya dibidani sendiri oleh Gedung Putih, AS membuka peluang bagi sekutu-sekutunya di Asia Tengah dan Timur Tengah untuk melanggar HAM dengan alasan memerangi terorisme. Laporan yang terungkap menyebutkan bahwa para mantan tahanan Guantanamo setelah diekstradisi ke negara sekutu AS mendapat perlakuan yang sangat buruk dan menjadi korban penyiksaan sadis. Kejinya siksaan yang mereka alami membuat para tahanan itu lebih memilih tetap tinggal di kamp Guantanamo yang dikenal angker. Semua itu terjadi di saat AS getol mengaku diri sebagai pembela HAM nomor satu di dunia.

Terungkapnya skandal pelecehan dan pelanggaran HAM oleh serdadu AS di penjara Abu Ghraib, Irak sempat membuat dunia heboh. April tahun 2003 ketika tentara AS memasuki Baghdad dan patung besar Saddam diturunkan beramai-ramai, warga Irak tenggelam dalam kegembiraan. Mereka mengira bahwa derita sudah berakhir dan Abu Ghraib yang menakutkan itu pasti akan segera disegel. Tak lama, realita yang sebaliknya terungkap. Serdadu AS mengambil alih seluruh penjara di Irak termasuk Abu Ghraib. Jika dulu interogator dan sipir penjara dari partai Baath kini serdadu AS yang bertugas di sana. Untuk sementara waktu tak ada berita yang signifikan dari Abu Ghraib.

Beberapa bulan kemudian, dunia heboh setelah foto-foto penyiksaan dan pelecehan para tahanan Abu Ghraib terekspos di internet. Gambar-gambar itu memperlihatkan serdadu AS berpose di dekat tumpukan para tahanan yang sudah ditelanjangi. Foto lainnya adalah gambar tentara perempuan AS yang memegang tali yang tersambung ke leher seorang tahanan tanpa busana. Ada pula foto tahanan yang ketakutan dengan anjing ganas di hadapannya. Foto berikutnya adalah tahanan yang dipaksa berdiri di satu tempat dengan wajah tertutup dan badan yang disambung ke kabel listrik. Semula banyak yang berpikir bahwa foto-foto itu hanya rekayasa. Namun tak lama setelah itu terungkap keaslian foto-foto itu. Yang menyakitkan, penyiksaan dan pelecehan itu dilakukan para serdadu AS di penjara Abu Ghraib untuk menghibur diri.
Kejahatan perang yang dilakukan AS tidak terbatas pada skandal penjara Abu Ghraib. Kejahatan dan pelanggaran HAM juga dilakukan negara adidaya ini di berbagai tempat di Irak dan Afghanistan. Fakta ini menunjukkan bahwa Gedung Putih tak pernah menuntut tentara AS untuk menghormati HAM. Kasus yang belum lama ini terungkap mengenai pembunuhan warga sipil di Afghanistan adalah contohnya. Kasus ini melibatkan sejumlah tentara AS yang membunuh warga sipil Afghan hanya untuk bersenang-senang. Para serdadu itu mengaku memberondong warga dengan senapan otomatis atau melempar granat ke arah mereka secara sengaja. Tak hanya itu, dalam membunuh warga sipil para serdadu AS saling berlomba menguji ketepatan dalam menembak sasaran. Para serdadu itu bahkan melakukan tindakan yang lebih keji dengan memotong jari atau kaki korban sebagai kenang-kenangan dari misinya di Afghanistan.

Di Irak, kejahatan tentara AS sudah bukan rahasia lagi. Blackwater, perusahaan AS yang menyediakan jasa keamanan dituduh melakukan pembunuhan terhadap warga sipil Irak tanpa alasan. Kasus lainnya adalah aksi penembakan yang dilakukan helikopter tempur AS terhadap kerumunan warga sipil termasuk dua wartawan. Militer AS dalam menjustifikasi kasus kejahatan ini mengaku bahwa pilot helikopter yang semula berniat menyorot kerumunan itu dengan kamera, salah meletakkan tangan di senapan otomatis. Justifikasi ini tidak bisa dipercaya karena hampir setiap hari terjadi aksi-aksi tak manusiawi seperti itu yang melibatkan tentara yang katanya memiliki persenjataan tercanggih di dunia. Sebab, beberapa kali alasan serupa disampaikan untuk menjustifikasi pembantaian massal iring-iringan pengantin di Afghanistan.
Penjara Guantanamo adalah satu lagi skandal terburuk HAM bagi AS. Setelah menduduki Afghanistan dalam perang yang tak imbang tahun 2001, Gedung Putih melakukan aksi penangkapan besar-besaran terhadap gerilyawan Taliban dan al-Qaeda. Para tahanan itu lantas dibawa keluar dari Afghanistan dan ditempatkan di suatu kamp yang jauh dari sorotan dunia. Sebab, jika dibawa ke AS, para tahanan itu akan menerima hak yang minimal. Akhirnya Guantanamo di teluk Kuba yang dikuasai AS dipilih. Sebab, daerah ini berada di luar kontrol pemerintah Kuba sehingga AS bisa berdalih jika tidak mengindahkan aturan internasional terhadap para tahanan di kamp Guantanamo. Di sanalah AS menempatkan sekitar 800 tahanan dengan dakwaan teroris. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk Afghanistan dan sejumlah negara Arab, bahkan Eropa dan Kanada. Tahanan dengan pakaian berwarna orange dengan tangan dan kaki terbelenggu adalah gambaran yang akrab dengan benak kita untuk mengingat para tahanan Guantanamo.

Rapor HAM AS semakin gelap dengan kebijakannya yang mendukung penuh rezim Zionis Israel dan kejahatannya terhadap rakyat Palestina dan Lebanon. Sama seperti para petinggi Gedung Putih, orang-orang Zionis juga mengaku aksi kejahatannya di Timur Tengah sebagai bagian dari perang melawan para teroris. Mereka mengatakan bahwa untuk memberangus para teroris yang tak lain adalah pejuang moqawama, apa saja boleh dilakukan termasuk pelanggaran HAM dalam bentuknya yang paling sadis sekalipun. Sebab, tindakan itulah yang juga dilakukan oleh AS. Ini berarti bahwa selagi AS masih mengendalikan penjara Abu Ghraib dan Guantanamo dengan segala kekejiannya, Rezim Zionis Israel juga bisa melakukan apa saja tanpa ragu.

Sudah beberapa dekade AS tampil sebagai pembela rezim Zionis. Sudah puluhan resolusi di Dewan Keamanan yang diveto AS lantaran berisi kecaman terhadap Israel. Sikap itulah yang membuat rezim Zionis merasa bebas melakukan kejahatan. Pembantaian Sabra Shatila, Kfar Jassin, Qana dan Jenin adalah pentas kekejian zionis yang dibela oleh AS dengan cara menutup mata dan menghalangi masyarakat dunia mengecam Zionis. Dengan rapor yang demikian, tak salah jika kita menyebut AS sebagai pelanggar HAM nomor wahid di dunia. (IRIB)





Kendala Utama Sanksi AS Atas Minyak Iran



Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan bahwa AS sedang mengadakan pembicaraan intens dengan India, Cina dan Turki untuk membujuk mereka berhenti membeli minyak Iran. Clinton membuat pernyataan itu kepada sebuah panel Senat pada hari Selasa (28/2).

Clinton menandaskan kepada panel Senat bahwa Washington akan menerapkan sanksi baru yang agresif terhadap Tehran. Ditambahkannya, "Kami telah berkeliling dunia bersama tim tingkat tinggi dari Departemen Keuangan, Energi dan Negara, untuk menjelaskan bentuk sanksi kepada rekan-rekan kami di seluruh dunia."

Pada kesempatan itu, Clinton juga menyatakan bahwa AS berupaya untuk membantu negara-negara yang memiliki ketergantungan signifikan terhadap minyak mentah Iran dengan mencari pemasok alternatif. Seraya menyinggung penilaian intelijen AS bahwa Iran belum memutuskan untuk mengejar senjata nuklir, Clinton mengatakan bahwa penting untuk bekerja dengan negara lain guna menjaga tekanan. Ditambahkannya, "Saya pikir ada pandangan yang sangat jernih tentang Iran. Itulah mengapa kebijakan presiden sangat jelas dan bersikeras bahwa AS bermaksud untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir."

Clinton lebih lanjut menjelaskan, beberapa negara anggota Uni Eropa sangat bergantung sampai dengan 30-35 persen dari minyak mentah Iran. Sementara Jepang merupakan di antara negara yang paling aktif. Mereka telah mengambil langkah-langkah luar biasa untuk mencoba  mematuhi sanksi. Dia menuturkan, AS memahami bahwa beberapa negara tidak bisa menghentikan impor minyak Iran dan Washington akan bekerja keras untuk membantu mereka menemukan pasokan alternatif.

"Kami memiliki beberapa situasi yang unik. Lihatlah Jepang," katanya seraya menyinggung dampak gempa bumi dan selanjutnya krisis nuklir. Clinton mengakui bahwa tantangan utama kebijakan sepihak itu adalah mencari pemasok minyak alternatif.

Sementara itu di AS sendiri, lonjakan harga minyak telah memicu kemarahan di kalangan konsumen dan menimbulkan kekhawatiran atas pemulihan ekonomi negara adidaya itu. Lonjakan harga terakhir terjadi setelah Iran menanggapi pengumuman Uni Eropa untuk mengembargo minyak dengan memotong ekspor minyak mentah ke beberapa negara Eropa.

Presiden Barack Obama mengakui ketidakmampuan pemerintahnya untuk mengontrol peningkatan harga energi, di mana Partai Republik terus menyalahkan Gedung Putih atas ketidaknyamanan ini. Belum lagi, Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengatakan, AS sedang mempertimbangkan opsi untuk menggunakan cadangan minyak strategis guna menurunkan harga minyak. Dia juga mengisyaratkan dampak ekonomi global dalam kasus embargo minyak Iran.

Seraya mengekspresikan keprihatinan mendalam atas gangguan pasokan dari Iran, Geithner menyatakan AS akan mencari sumber lain untuk mengkompensasi pengurangan pasokan minyak.

Harga bensin AS meningkat sebesar hampir 9 sen per galon dalam seminggu terakhir dengan rata-rata 3,61 dolar, diperkirakan akan melonjak ke tingkat yang lebih tinggi. Harga minyak mentah AS juga melonjak sembilan persen tahun ini, mendekati angka 108 dolar per barel pekan lalu, level tertinggi sejak Mei 2011.

Iran saat ini tidak menemukan kesulitan untuk menjual minyaknya dan sejak sekarang telah memilih pembeli alternatif serta pamasok baru dari Eropa. Pada dasarnya, dikte AS kepada negara-negara lain untuk melawan Iran adalah sebuah kasus yang memiliki dampak internasional dan tantangan utama tidak hanya terbatas pada peningkatan harga minyak, tapi lonjakan harga-harga barang dan instabilitas pasar dunia.

Jelas bahwa sanksi dan embargo sama seperti pedang bermata dua. Meskipun Iran tidak berniat menciptakan krisis di bidang energi dan memperburuk masalah ekonomi warga Eropa dan Amerika, tetapi langkah-langkah brutal dan tindakan tidak rasional Barat tentu akan mengundang reaksi Tehran. (IRIB Indonesia/RM/RA)






Mencermati Pemilu Sandiwara di Yaman



Pekan lalu, Yaman yang dilanda kerusuhan dan demo rakyat menuntut pengunduran diri dan proses hukum bagi diktator Ali Abdullah Saleh menggelar pilpres setelah Saleh setuju dengan prakarsa yang digagas P-GCC untuk lengser dengan imbalan kekebalan hukum. Di masa pemerintahan transisi, Abd Rabbuh Mansour Hadi, wakil Saleh ditunjuk untuk menjalankan roda pemerintahan. Kini di saat pemilu digelar, hanya terdapat kandidat tunggal. Ia adalah Mansour Hadi sendiri. Pemilu ini sebenarnya hanya sebuah pentas sandiwara yang disutradarai negara-negara regional dan trans regional yang mengintervensi negara ini. Adapun aktornya adalah Mansour Hadi.

Pemilu sandiwara ini layak untuk dicermati. Selain hanya terdapat kandidat tunggal, juga rakyat tidak memiliki hak untuk menolak. Di kertas suara hanya terdapat satu pilihan "Ya" dan tidak terdapat kata "Tidak". Dengan demikian tak heran jika Mansour Hadi memperoleh 99,8 persen suara. Di sisi lain, para sutradara asing pemilu ini juga tidak berminat mengajukan calon lain meski dari kandidat yang loyal kepada mereka.

Bersamaan dengan ketegangan dan krisis di Yaman, antusias warga di pilpres yang digelar Selasa 21/2 ternyata minim. Mayoritas pemilih di pilpres kali ini terdiri dari militer dan dinas keamanan pusat Yaman. Warga Yaman mengatakan, tuntutan mereka di pilpres yang digelar hari ini berdasarkan prakarsa P-GCC tidak ditampung. Di sisi lain, sejumlah warga menggelar aksi demo dan menyerang tempat pemungutan suara (TPS) serta merobek kartu suara.

Warga kota Taizz di selatan Yaman juga menggelar aksi serupa dan menuntut boikot terhadap pilpres yang digelar hari ini. Para demonstran menyuarakan penentangannya atas kandidat tunggal, Abd Rabbu Mansour Hadi. Sementara 13 kelompok al-Houthi di Propinsi Sa'dah, Utara Yaman juga menggelar pertemuan mengajak warga memboikot pilpres. Al-Houthi menilai pilpres kali ini sebagai sarana menerapkan kebijakan Amerika Serikat di Yaman serta menginjak-injak darah para syuhada revolusioner. Kubu ini menekankan, pemilu hari ini adalah sandiwara AS, pelecehan serta pengkhianatan terhadap rakyat Yaman.

Sementara itu, pasukan keamanan pemerintah gencar melakukan penumpasan warga yang tengah protes atas pemilu kalu ini. Di Aden, pasukan keamanan menewaskan dan menciderai puluhan warga. Pilpres ini sama sekali tidak mencerminkan demokrasi. Proses ini tak lebih hanya sandiwara serta pengesahan Mansour Hadi sebagai pengganti Saleh sesuai dengan skenario garapan Arab Saudi dan Amerika Serikat. Buktinya adalah, dalam kondisi pemilu seperti ini Washington mengaku puas dengan proses pemilu di Yaman. Amerika Serikat, memuji pemilihan presiden di Yaman sebagai pemungutan suara "yang sangat kuat dan positif" oleh rakyat Yaman dalam proses peralihan kekuasaan yang disepakati oleh pemimpin mereka.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland menyampaikan ucapan selamat kepada rakyat Yaman karena "berhasil melaksanakan" pemilihan umum. Ia menyoroti banyaknya pemilih yang datang, terutama dari kalangan perempuan dan pemuda. Nuland menandaskan,"Kami menganggapnya sebagai referendum yang sangat kuat dan positif oleh rakyat Yaman dalam proses peralihan yang telah disepakati para pemimpin mereka. Itu adalah pemilihan umum yang jelas demokratis." Statemen ini sangat transparan membuktikan intervensi AS di pemilu Yaman, padahal jelas-jelas pemilu ini tidak menunjukkan demokrasi sejati, meski demokrasi yang diusung AS sendiri.

Pemilu ini tak lebih sekedar konspirasi untuk merusak revolusi rakyat Yaman. Konspirasi ini didalangi oleh perwira tinggi Yaman, pasukan yang berafiliasi dengan Riyadh, kedubes Arab Saudi dan AS di Sanaa untuk mempertahankan anasir-anasir rezim Saleh. Bertepatan dengan digelarnya pilpres di Yaman, John O. Brennan, penasehat Presiden AS di bidang keamanan nasional dan anti terorisme berkunjung ke Sanaa. Dalam kesempatan tersebut, Brennan bahkan merilis statemen yang mengklaim Mansour Hadi mitra utama Washington di perang anti terorisme dan al-Qaeda. Kehadiran Brennan bertepatan dengan digelarnya pemilu sandiwara di Yaman menunjukkan dengan jelas bahwa pemilu ini tak lebih sebuah konspirasi yang disusun sebelumnya untuk mencegah kedaulatan rakyat negara ini dalam menentukan nasibnya sendiri.

Pemilu sandiwara Yaman dengan kandidat tunggal skenario AS digelar di saat Washington mengklaim sebagai pembela demokrasi. Klaim ini juga menjadi agenda propaganda media mereka khususnya untuk negara-negara Timur Tengah. Namun dalam prakteknya, demokrasi yang digembar-gemborkan AS hanya sesuai dengan kepentingan Gedung Putih. Apalagi di Timur Tengah. Klaim demokrasi AS hanya didengungkan Washington untuk mempertahankan Rezim Zionis Israel dan hegemoni politik di kawasan.

Sikap dualisme AS soal demokrasi sangat kentara di Suriah dan Yaman. AS, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar menekan Bashar Assad di Suriah dengan dalih pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta mengabaikan demokrasi. Tekanan dan ancaman terhadap pemerintah Assad sampai pada tahap mereka mengorganisir kelompok bersenjata untuk memusuhi Damaskus dan sampai -sampai ulama Saudi mengeluarkan fatwa Wajib Bunuh Presiden Suriah. Senator John McCain secara transparan meminta pengiriman senjata modern kepada kubu anti Assad. Barat berusaha mengulang skenario intervensi militer di Libya untuk diterapkan di Suriah. Namun mereka lupa bahwa kondisi di Suriah berbeda dengan Libya, Assad mendapat dukungan mayoritas rakyatnya berbeda dengan Muammar Gaddafi.

Para pengklaim demokrasi ala AS di Suriah menempuh berbagai cara-cara brutal mulai perang hingga perusakan struktur ekonomi, politik dan militer di negara ini. Aksi mereka ini mendapat dukungan penuh dari dua negara Arab, Arab Saudi dan Qatar yang rela memberikan bantuan finansial dan politik. Kedua negara ini juga aktif menekan Assad dengan berbagai cara, mulai dari Liga Arab hingga PBB. Menangguhkan keanggotaan Suriah di Liga Arab serta resolusi di PBB anti Suriah juga ulah kedua negara Arab ini yang menjadi kepanjangan tangan Amerika Serikat di kawasan.

Namun di Yaman, sikap AS serta anggota P-GCC berbeda dengan di Suriah. Rakyat Yaman sejak satu tahun lalu menggelar aksi demo damai menuntut pengunduran diri Ali Abdullah Saleh. Aksi ini mendapat jawaban kejam dari pasukan keamanan Yaman. Timah panas pun menerjang para demonstran sehingga mengakibatkan jatuhnya puluhan bahkan ratusan korban. AS dan P-GCC  berusaha mempertahankan kekuasaan Saleh dengan berbagai cara. Seiring dengan tumbangnya diktator Mesir, Tunisia dan Libya, maka berlanjutnya kekuasaan Saleh sepertinya tak mungkin. Oleh karena itu, Barat dan P-GCC mulai merancang strategi baru untuk mencari pengganti Saleh.

AS dan Arab Saudi lebih mengkhawatirkan aksi demo rakyat Yaman di bading dengan kebangkitan Islam di negara Arab lainnya. Bagi AS, pemerintahan Saleh merupakan nilai plus tersendiri bagi Gedung Putih, bukan hanya karena Sanaa senantiasa mengiringi kebijakan mereka, namun juga Saleh menjadi wakil Gedung Putih menumpas gerakan anti Amerika. Arab Saudi juga sangat mengkhawatirkan aksi protes rakyat Yaman. Arab Saudi sangat tertekan dan terancam dengan meletusnya kebangkitan Islam di dekat perbatasannya, baik di Bahrain maupun di Yaman. Kekhawatiran Riyadh ini dapat disaksikan dari sikap mereka yang tak tanggung-tanggung mengirim pasukannya ke Bahrain untuk menumpas aksi demo rakyat Manama serta membombardir kawasan Syiah di Yaman. Dengan dukungan penuh AS, Arab Saudi berusaha keras memadamkan aksi demo di Yaman.

Pemerintah AS dan rezim di kawasan dalam menghadapi aksi demo anti diktator despotik rakyat Yaman menunjukkan bahwa mereka tidak ragu-ragu memanfaatkan demokrasi demi kepentingannya. Oleh karena itu mereka mendalangi pilpres sandiwara di Yaman. Aksi AS ini mengingatkan kita pada perkataan mantan Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice. Rice di tahun 2006 saat mereaksi kemenangan Hamas di pemilu yang digelar secara transparan dan bebas serta di bawah pengawasan tim pemantau internasional mengatakan,"Kami memiliki dua kategori bagi demokrasi, ada demokrasi baik dan ada demokrasi buruk. Demokrasi baik adalah demokrasi yang kami dukung dan benarkan."

Artinya jika sebuah negara menegakkan demokrasi pro AS maka itu berarti dalam pandangan Washington demokrasi benar. Namun jika ada negara yang mengembangkan demokrasi namun tidak selaras dengan kebijakan dan kepentingan AS, meski proses ini telah memenuhi seluruh kriteria demokrasi itu sendiri, namun dalam pandangan Washington, demokrasi seperti ini adalah demokrasi buruk. Contohnya, pemerintahan diktator terguling Hosni Mubarak di Mesir dan Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia adalah demokrasi yang baik. Namun pemerintahan Republik Islam Iran yang sangat demokratis karena bertentangan dengan kepentingan AS maka manjadi demokrasi buruk dan ancaman bagi keamanan kawasan.

Sekali lagi, apa yang terjadi di Yaman kembali membongkar klaim palsu para pendukung demokrasi. Pemilu sandiwara di Yaman tak lebih upaya untuk meredam aksi demo rakyat dan melegalisasi kepemimpinan Mansour Hadi. Padahal hingga saat ini, pos-pos penting di militer masih dikuasai antek-antek Ali Abdullah Saleh. Di sisi lain, saat pelantikan dan sumpah jabatan Mansour Hadi, Ali Abdullah Saleh kembali ke Yaman untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa dirinya masih memegang kendali politik di negara ini. Harus diakui strategi Barat dan Arab ini akan pasti mempengaruhi kebangkitan rakyat di negara ini. Dan dampak minimalnya adalah lambannya hasil yang akan diperoleh oleh perjuangan rakyat Yaman. Namun yang pasti hal ini tidak akan mengendorkan semangat rakyat negara ini untuk terus berjuang. Sekali lagi, gelombang kebangkitan Islam tidak akan surut dan rakyat Yaman pun tidak akan berhenti berjuang hingga seluruh akar anasir Ali Abdullah Saleh tercabut.(IRIB Indonesia)

Teknologi Nuklir Dalam Perspektif Rahbar




Munculnya ilmuwan besar seperti Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi, Ibnu Sina, Umar Khayyam, Sadr al-Din Shirazi (Mulla Sadra ) dan masih banyak lagi ilmuwan lainnya merupakan anugerah besar Allah swt kepada manusia. Hal inilah yang juga mendorong Rasulullah saw merasa puas dengan kemampuan umatnya. Banyak hadis dari beliau yang memuji serta menjelaskan kedudukan ilmuwan dan ulama di sisi Allah.

Dewasa ini kemajuan di bidang sains memunculkan transformasi baru di berbagai bidang. Kemajuan ini juga memberikan manfaat besar bagi manusia khususnya terkait penyelesaian problematika yang mereka hadapi. Seiring dengan kemajuan sains ini, berbagai negara berlomba untuk memanfaatkan teknologi modern bagi kemajuannya serta mengatasi kendala yang mereka hadapi. Di antara teknologi maju di abad ke 20 yang dimanfaatkan untuk mengatasi problema manusia adalah teknologi nuklir. Saat ini tercatat sekitar 440 instalasi nuklir di dunia yang aktif dan masih banyak lagi reaktor yang digunakan untuk kepentingan riset yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Namun pakar sosiolog meyakini bahwa semakin maju manusia maka mereka akan semakin jauh dari nilai-nilai moral dan spiritualitas. Parahnya lagi adalah bibit-bibit kesombongan mulai bersemi di hati manusia, sehingga kita menyaksikan penemuan para ilmuwan besar ini disalahgunakan oleh kekuatan arogan dunia untuk menjajah negara lain demi kepentingan pribadi. Namun kondisi ini berbeda di Republik Islam Iran. Dengan kemenangan Revolusi Islam di Iran, mulailah era sains berkembang di negara ini. Para ilmuwan muda Iran dengan semangat nasionalisme dan spiritualitas tinggi berhasil menggapai teknologi maju termasuk teknologi nuklir.

Terkait teknologi nuklir, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan Kepala dan para pejabat Badan Energi Atom serta sejumlah ahli nuklir Iran menyebut keberhasilan di bidang sains dan teknologi nuklir dalam beberapa tahun terakhir sebagai keberhasilan yang menumbuhkan rasa bangga dan mengangkat martabat negara di mata bangsa-bangsa lain di kawasan dan dunia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa meski dihimpit berbagai tekanan, satu bangsa yang resisten dan gigih akan mampu meraih kebebasan dan meruntuhkan monopoli sains oleh kekuatan arogansi.

Menurut Ayatullah al-Udzma Khamenei, bangsa Iran tak pernah dan tak akan pernah berpikir membuat senjata nuklir. Bangsa ini akan membuktikan kepada dunia bahwa senjata nuklir tidak mendatangkan kekuatan. Tapi bangsa yang mengandalkan bakat dan potensi insani dan alamnya bisa meruntuhkan kekuatan yang memiliki senjata nuklir.

Beliau menyebut sumber daya manusia yang handal, cerdas, berwawasan dan penuh semangat di negara ini sebagai karunia besar ilahi, seraya menandaskan, meski keberhasilan para ilmuan muda Iran di bidang teknologi nuklir punya banyak dimensi namun dari semua itu yang paling menonjol adalah rasa bangga dan kehormatan yang didapat bangsa Iran berkat keberhasilan ini. Rasa bangga dan kehormatan ini menurut beliau didapatkan berkat revolusi Islam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung tentang monopoli sains dan teknologi oleh segelintir negara dan mengatakan, "Sejumlah negara secara tak sah dan dengan cara memonopoli sains menguasai dunia dan menyebut diri sebagai masyarakat global. Negara-negara itu mengkhawatirkan keberhasilan bangsa-bangsa lain dalam meruntuhkan monopoli ilmu. Sebagian isu yang diangkat oleh mereka terhadap bangsa Iran berkaitan dengan masalah ini."

Rahbar menyebut penggunaan ilmu untuk melakukan tindakan arogansi sebagai kejahatan kemanusiaan terbesar. Beliau mengatakan, "Jika bangsa-bangsa dunia berhasil mencapai independensi di bidang nuklir, aerospace, teknologi, sains, dan industri tidak akan ada lagi tempat bagi kaum arogan di dunia."

Mengenai isu nuklir, Ayatullah al-Udzma Khamenei menyebutnya sebagai upaya musuh untuk menghentikan gerak laju Iran di bidang sains dan teknologi. Sebab, mereka menyadari benar bahwa dari sisi pemikiran, ideologi dan fikih Republik Islam Iran menilai kepemilikan senjata nuklir sebagai dosa besar. Iran menganggap menyimpan senjata nuklir hanya perbuatan yang sia-sia, merugikan dan sangat berbahaya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, Republik Islam Iran ingin membuktikan kepada dunia bahwa memiliki senjata nuklir tidak akan mendatangkan kekuatan, tapi justeru kekuatan yang mengandalkan senjata nuklir bisa dilumpuhkan dan itulah yang akan dilakukan oleh bangsa Iran.

Sanksi, intimidasi, ancaman dan teror, menurut beliau, tak akan membuahkan hasil apapun, dan bangsa Iran akan melanjutkan langkahnya ke arah kemajuan ilmu. Rahbar menambahkan, semua intimidasi dan sanksi ini menunjukkan kelemahan kubu arogansi menghadapi bangsa Iran yang semakin kuat. Sebab dari kemarahan musuh, bangsa ini telah menyadari bahwa langkahnya benar.

Beliau menyebut isu nuklir yang diangkat oleh Barat sebagai alasan yang dibuat-buat. Beliau menandaskan,"Sejak kemenangan revolusi Islam, bangsa Iran sudah dikenai sanksi, padahal isu nuklir baru mencuat ke permukaan dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, masalah mereka yang sebenarnya adalah bangsa yang telah memutuskan untuk mengambil keputusan secara independen, menolak ditindas dan membongkar kejahatan kaum durjana. Bangsa ini menyampaikan pesan kepada bangsa-bangsa lain untuk melakukan hal yang sama dan akan melakukan hal-hal yang lebih."

Ayatullah al-Udzma Khamenei menegaskan, ketika satu bangsa sudah mengambil keputusan, bertawakkal kepada pertolongan Allah dan mengandalkan potensi diri, maka tak ada yang bisa menghalangi langkahnya. Masalah nuklir, menurut beliau, bukan hanya permasalahan teknologi dan penggunaannya di sejumlah bidang di satu negara, tapi masalah gerakan kaum muda, para ilmuan dan bangsa yang telah membulatkan tekad. Mempertahankan resistensi dan semangat satu bangsa adalah hal yang sangat penting.

Bangsa Iran selama tiga dekade pasca kemenangan Revolusi Islam dengan tekad bulat menghadapi tekanan dan konspirasi musuh demi merealisasikan cita-citanya dan menjaga independensi serta kebebasannya. Resistensi dan upaya tak kenal lelah para pemuda Iran membuat negara ini mampu meraih sejumlah prestasi gemilang dan perannya baik di tingkat regional maupun internasional diakui banyak pihak. Dewasa ini mayoritas negara dunia mengakui kemajuan Iran di berbagai bidang seperti budaya, sains, ekonomi dan politik.

Di masa mendatang, rakyat Iran dengan tekad ini akan membuktikan bahwa sanksi ekonomi, tekanan politik, ancaman serangan militer tidak akan berguna. Mereka tetap konsisten untuk meraih kemajuan sains dan teknologi. Terkait hal ini Rahbar mengatakan, "Tekanan dan sanksi dari satu sisi menunjukkan kelemahan kekuatan arogan dunia. Sementara itu, hal ini malah membuat bangsa Iran kian solid karena rakyat semakin sadar ketika musuh bertambah geram maka mereka mengetahui jalan yang ditempuhnya telah benar dan akan terus melanjutkan pilihannya tersebut."

Barat memandang kepentingannya akan diperoleh ketika negara-negara lain seperti Iran tidak berhasil menggapai teknologi maju seperti teknologi energi nuklir. Dari sinilah, Barat mulai melancarkan berbagai strategi untuk mencegah penggapaian teknologi ini oleh Iran, mulai dari teror para ilmuwan nuklir negara ini hingga sanksi serta ancaman serangan militer. Di satu sisi, Iran menilai penggapaian teknologi nuklir damai berkaitan erat dengan kepentingan nasional dan masa depan bangsa ini.(IRIB Indonesia)


Bagaimana Pendapat Anda Tentang Dunia?



قِيلَ لِأَميرالمؤمنين (عليه السلام)
فَمَا تَقُولُ فِي الدُّنْيَا؟ قَالَ: فَمَا أَقُولُ فِي دَارٍ أَوَّلُهَا غَمٌّ وَ آخِرُهَا الْمَوْتُ؛ مَنِ اسْتَغْنَى فِيهَا افْتَقَرَ وَ مَنِ افْتَقَرَ فِيهَا حَزِنَ؛ فِي حَلَالِهَا حِسَابٌ وَ فِي حَرَامِهَا النَّار.[1]

Imam Ali as ditanya: Apa pendapat Anda tentang dunia? Beliau berkata: Apa yang aku harus katakan tentang rumah yang awalnya kesedihan dan akhirnya kematian. Orang yang mengejar kecukupan di dunia akan selalu membutuhkan, dan orang yang membutuhkan dan fakir, maka dia akan bersedih. Ada hisab dalam hal-hal yang halal di dunia dan ada neraka untuk hal-hal yang haram di dunia."

Ayatullah Mujtaba Tehrani menjelaskan hadis tersebut dan mengatakan, "Imam Ali ketika ditanya apa pendapat beliau tentang dunia menjawab; apa yang harus aku katakan tentang rumah yang awalnya kesedihan. Ungkapan Imam Ali as itu ibarat jika Anda bertanya kepada seseorang; bagaimana kabarmu? Lalu ia menjawab: apa yang harus aku katakan? Dari jawaban tersebut Anda mengetahui bahwa kondisi dia sangat buruk. Begitu pula dengan kondisi dunia."

"Dari ungkapan bahwa awalnya adalah kesedihan, berarti rumah [dunia] ini memiliki batas. Ada awal dan ada akhirnya. Ada pintu masuk dan keluarnya. Awalnya kesedihan. Ketika kaki manusia menginjakkan kaki pertama kali ke dunia ini menangis. Ada sebabnya, yang penjelasannya perlu waktu panjang dan saya tidak akan membahasnya di sini."

"Dan akhirnya kematian. Kematian termasuk masalah ruh dan akan ada tekanan (kesusahan) ketika ruh akan keluar dari badan. Dengan demikian awal dunia adalah kesedihan dan akhirnya adalah kesusahan. Poin ini harus diperhatikan bahwa tekanan dan kesusahan ketika ajal menjemput dirasakan semua orang kecuali para wali Allah karena untuk mereka berbeda. Jawaban yang diberikan Imam Ali as tentang kematian itu adalah yang menyangkut kematian saya dan Anda, karena kematian untuk Imam Ali sendiri beliau berkata:

«وَ اللَّهِ لَابْنُ أَبِي طَالِبٍ آنَسُ بِالْمَوْتِ مِنَ الطِّفْلِ بِثَدْيِ أُمِّه».[2]

Demi Allah untuk putra Abi Thalib, kecintaannya kepada kematian [di jalan Allah Swt] lebih besar dari kecintaan bayi pada puting susu ibunya. Jadi dua masalah ini (kematian orang biasa dan para manusia suci) jangan dicampur aduk."

"Berikutnya, semakin besar kekayaan duniawi yang dimiliki manusia, maka dia akan merasa lebih membutuhkan. Dalam riwayat lain, dunia diumpamakan seperti air laut, semakin banyak diminum maka akan semakin membuat haus. Dengan kata lain, orang yang lebih kaya akan lebih membutuhkan."

"Ketahuilah bahwa apa yang kau dapatkan di dunia ini, banyak atau sedikit, jika diperoleh secara halal maka akan ada hisab (di Hari Kiamat kelak), dan jika diperoleh secara haram, maka ada neraka jahanam yang menanti."

"Apa yang dimaksud oleh Imam Ali as? Beliau ingin menjelaskan apakah orang yang menambatkan hati pada dunia, masih berakal? Tidak! Orang yang menambatkan dirinya dengan dunia yang memiliki kriteria seperti ini, tidak lain adalah orang yang bodoh. Dalam hadis ini Imam Ali as ingin mengingatkan saya dan kalian agar kita sadar untuk tidak terikat dengan dunia yang kondisinya seperti ini."

[1]. بحار الانوار، جلد 75، صفحه 32
[2]. نهج البلاغه، خطبه5، صفحه 52




0 comments to "Senjata NUKLIR tidak mendatangkan kekuatan. Tapi bangsa yang mengandalkan bakat dan potensi insani dan alamnya beserta kekuatan ILLAHI bisa meruntuhkan kekuatan yang memiliki senjata NUKLIR, hingga Pemilu Sandiwara di Yaman serta Ulama Saudi Fatwakan WAJIB Hukumnya Membunuh Presiden Suriah"

Leave a comment